KPK Kantongi Identitas Internal Kemag yang Bantu Rommy

KPK Kantongi Identitas Internal Kemag yang Bantu Rommy
Kekanwil Kemag Jawa Timur Haris Hasanuddin (kiri) dan Kepala Kantor Kemag Kabupaten Gresik Muhammad Muafaq Wirahadi (tengah) mengenakan rompi tahanan usai diperiksa di gedung KPK, Jakarta, Sabtu (16/3/2019). KPK menahan Ketum PPP Romahurmuziy, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik Muhammad Muafaq Wirahadi, dan Kepala Kantor Wilayah Kemag Jawa Timur Haris Hasanuddin dengan barang bukti uang sebanyak Rp 156.758.000 terkait kasus dugaan suap seleksi pengisian jabatan pimpinan tinggi di Kementerian Agama. ( Foto: ANTARA FOTO / Indrianto Eko Suwarso )
Fana Suparman / JAS Selasa, 19 Maret 2019 | 08:27 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah mengantongi nama pihak yang membantu Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Rommy) dalam jual beli jabatan di lingkungan Kementerian Agama (Kemag). Diduga, pihak tersebut berasal dari internal Kemag.

"Tentu sudah kami identifikasi ya, tetapi sampai saat ini tentu belum bisa disampaikan karena hal itu terkait dengan materi penanganan perkara nanti akan kami dalami terlebih dahulu," kata Jubir KPK, Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Senin (18/3/2019).

Febri mengatakan, Rommy tidak memiliki kewenangan apapun dalam proses seleksi pengisian jabatan di lingkungan Kemag. Namun, dengan posisinya sebagai Ketua Umum PPP, Rommy memiliki pengaruh untuk mengintervensi dan mempengaruhi proses seleksi yang sebenarnya telah menggunakan sistem online tersebut. Untuk mengatur jual beli jabatan ini, terdapat pihak internal Kemag yang diduga membantu Romi.

"Ini yang sebenarnya secara teoritik sering kami sampaikan ada risiko jika ada misalnya intervensi-intervensi oleh aktor-aktor politik terhadap birokrasi. Dalam konteks ini kami menduga ada perbuatan bersama-sama yang dilakukan oleh tersangka RMY (Romahurmuziy) dengan pihak di Kementerian Agama untuk mempengaruhi penempatan orang-orang pada posisi tertentu di Kementerian Agama," ungkapnya.

Febri memastikan, tim penyidik akan terus mendalami dan mengembangkan kasus ini, termasuk mengusut keterlibatan pihak lainnya. Pengembangan kasus ini dilakukan dengan mempelajari berbagai dokumen yang telah disita dari penggeledahan di Kantor Kemag dan Kantor DPP PPP maupun dengan memeriksa para saksi terkait.

"Nanti akan kami dalami terlebih dahulu, dari proses-proses penggeledahan kah, mempelajari barang bukti ataupun nanti pemeriksaan saksi-saksi," katanya.

Pada Senin (18/3/2019), tim penyidik KPK diketahui menggeledah Kantor Kemag dan Kantor DPP PPP. Saat menggeledah ruang kerja Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, tim penyidik menyita uang tunai ratusan juta dalam pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat. Diduga uang tersebut berkaitan dengan kasus jual beli jabatan di lingkungan Kemag yang menjerat Romi.

Sementara dari ruang kerja Sekjen Kemag, Nur Kholis Setiawan dan Kepala Biro Kepegawaian Kemag, KPK menyita sejumlah dokumen berkaitan dengan proses seleksi di lingkungan Kementerian Agama. Disita juga dokumen terkait hukuman disiplin terhadap Kanwil Jawa Timur, Haris Hasanuddin yang telah menyandang status tersangka kasus ini.

Sedangkan di Kantor DPP PPP, tim penyidik menggeledah ruang kerja Rommy, ruang Bendahara dan ruang Administrasi DPP PPP. Dari penggeledahan di Kantor DPP PPP ini, tim penyidik menyita sejumlah dokumen terkait kepengurusan dan posisi Rommy di DPP PPP.

"Dalam proses penggeledahan itu ada bukti-bukti yang perlu disita jika dipandang terkait dan kemudian dipelajari lebih lanjut. Siapa yang terlibat, yang pasti sekarang yang terlibat adalah tiga orang yang sudah jadi tersangka. Apakah ada pihak lain yang akan diproses nanti tergantung pada alat bukti dan perkembangan penanganan perkara," tegas Febri.

Diketahui, KPK menetapkan Romi, Kepala Kantor Kemag Kabupaten Gresik, Muhammad Muafaq Wirahadi dan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemag Provinsi Jawa Timur (Jatim), Haris Hasanuddin sebagai tersangka kasus dugaan suap jual beli jabatan di lingkungan Kemag.

Muafaq dan Haris diduga telah menyuap Romi untuk mengurus proses lolos seleksi jabatan di Kemag. Muafaq mendaftar untuk posisi Kepala Kantor Kemag Kabupaten Gresik dan Haris mendaftar sebagai Kakanwil Kemag Provinsi Jatim.

Pada 6 Februari 2019, Haris mendatangi kediaman Rommy dan menyerahkan uang sebesar Rp 250 juta untuk memuluskan proses seleksi ini sesuai kesepakatan. Saat itu, KPK menduga telah terjadi pemberian suap tahap pertama.

Namun, pada pertengahan Februari 2019, pihak Kemag menerima informasi bahwa nama Haris Hasanuddin tidak lolos seleksi untuk diusulkan ke Menteri Agama karena pernah mendapatkan hukuman disiplin.

KPK menduga telah terjadi kerja sama antara pihak-pihak tertentu untuk tetap meloloskan Haris Hasanuddin sebagai Kakanwil Kemag Provinsi Jatim.

Selanjutnya, Haris Hasanuddin dilantik oleh Menag sebagai Kakanwil Kemag Jatim pada awal Maret 2019. Setelah Haris lolos seleksi dan menjabat Kakanwil Kemag Jatim, Muafaq meminta bantuan kepada Haris untuk dipertemukan dengan Rommy. Pada Jumat (15/3) lalu, Muafaq, Haris, dan Calon Anggota DPRD Kabupaten Gresik dari PPP, Abdul Wahab menemui Rommy untuk menyerahkan uang Rp 50 juta terkait kepentingan jabatan‎ Muafaq.



Sumber: Suara Pembaruan