Diwarnai Insiden Berbau Politik, Polri Tunda MSRF

Diwarnai Insiden Berbau Politik, Polri Tunda MSRF
Presiden Joko Widodo (berkaus hitam) saat menghadiri acara Deklarasi Millennials Road Safety Festival di sekitar Jembatan Ampera, Kota Palembang, Sabtu, 9 Maret 2019. ( Foto: dok )
Farouk Arnaz / YS Selasa, 19 Maret 2019 | 21:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com — Sejumlah acara Millenial Road Safety Festifal (MRSF) 2019 dipastikan dihentikan sementara waktu dan akan digelar pascapemilu. Awalnya, acara itu akan digelar di Sulsel, Jakarta, Kaltara, Banten, dan Jateng.

“Semuanya itu ditunda setelah pemilu. Untuk Sulsel rencananya memang pada 24 Maret ini, namun karena bertepatan dengan jadwal kampanye terbuka, maka ditunda. Itu alasannya,” kata Dirlantas Polda Sulsel Kombes Agus Wijayanto saat dihubungi Beritasatu.com Selasa (19/3/2019) malam.

Sebelumnya Kapolri Jenderal Tito Karnavian memang mengatakan akan mempertimbangkan menunda MSRF, dan akan digelar seusai pemilu. Hal itu karena minimal sudah dua kali acara positif yang dimotori oleh Korlantas Polri itu malah jadi blunder karena dikotori aktivitas berbau politik.

Yang terbaru adalah acara MRSF yang digelar Polda Jatim di Jembatan Suramadu, Minggu (17/3/2019).

Acara yang dihadiri sekitar 70.000 milenial dari 38 kabupaten dan kota dari seluruh Jatim itu dinodai aksi berbau kampanye. Yakni saat sekelompok peserta kampanye malah memutar lagu berjudul Jokowi Wae.

Meski lagu Jokowi Wae itu tidak diputar di panggung utama acara, melainkan di area Jembatan Suramadu, yang ditutup total sehingga macet parah, tapi aksi politik itu tak seharusnya terjadi dan bisa ditafsirkan lain.

Yang lebih parah saat acara MSRF digelar Polda Bali di Lapangan Renon, Denpasar, 17 Februari lalu. Saat itu, Gubernur Bali I Wayan Koster berkampanye mengajak massa yang datang untuk mendukung Jokowi.

Ajakan Wayan Koster disampaikan di hadapan Pangdam IX Udayana, Kapolda Bali, serta perwakilan masyarakat. Masalahnya Polri dan juga TNI sudah berulangkali menyatakan netralitasnya.

“(Ajakan berpolitik dalam MSRF) itu enggak benar dan dilarang. Tapi hal-hal spontan itu susah kita kendalikan. Pada waktu kegiatan MSRF di Palembang, bahkan juga ada yang mengacungkan dua jari (salam pasangan Prabowo) di depan Presiden,” kata Tito saat dihubungi Beritasatu.com Minggu lalu.

MSRF di Palembang yang dimaksud Tito digelar Polda Sumatera Selatan pada 9 Maret lalu. Acara yang dipusatkan di Benteng Kuto Besak dan Jembatan Ampera itu memang dihadiri Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana.

“Jadi sulit dilarang. Massa amat terbuka spontanitasnya. Tapi saya pertimbangkan untuk menunda (acara MSRF tersisa). Saya akan bicara dengan Kakorlantas. Baiknya memang dilaksanakan (lagi) setelah Pilpres,” sambung Tito saat itu.

Selain berbau politik, acara MSRF yang digelar Polda DIY pada 10 Maret juga menuai protes dari masyarakat. Kegiatan yang digelar di Titik Nol Km Yogyakarta ini dianggap mengganggu aktivitas masyarakat.

Kritik tersebut disuarakan oleh warga yang terganggu saat hendak menjalankan ibadah di gereja di sekitar lokasi karena semua akses jalan ditutup. Kritik tersebut salah satunya dilayangkan oleh pendeta bernama Hadyan Tanwikara.

 



Sumber: Suara Pembaruan