KH Ma’ruf Artikulatif dan Terukur, Sandi Asal-asalan

KH Ma’ruf Artikulatif dan Terukur, Sandi Asal-asalan
Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) menimbang berat badan balita untuk mencegah kegagalan tumbuh kembang anak (stunting) saat kegiatan Posyandu balita di Klaten, Jawa Tengah, 18 April 2018. ( Foto: Antara / Maulana Surya )
Yustinus Paat / WM Selasa, 19 Maret 2019 | 22:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Juru bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Yurgen Alifia Sutarno, kagum dengan penampilan debat dari Calon Wakil Presiden 01, KH Ma’ruf Amin, dalam debat cawapres putaran ketiga yang digelar Minggu (17/3/2019) malam.

“Dari debat kemarin Kiai Ma’ruf sangat artikulatif, mampu menyentuh persoalan-persoalan penting dari keempat tema debat kemarin dan memberikan solusi yang terukur dan berbasis bukti,” ujar Yurgen kepada Beritasatu.com, Selasa (19/3/2019).

Pesan yang artikulatif itu, menurut Yurgen, bisa dilihat ketika Kiai Ma’ruf menyampaikan misi dalam bidang pendidikan. Menurut Ma'ruf perlu ada instrumen yang lebih baik untuk mengawasi dana transfer ke daerah khususnya di bidang pendidikan.

"Selain isu pendidikan, Kiai Ma'ruf juga mengamati keberhasilan pemerintahan Joko Widodo yang berhasil menurunkan angka stunting atau gizi buruk pada balita," kata caleg DPR RI dapil Jawa Barat VI ini.

Isu stunting memang kerap didengungkan pihak oposisi untuk menyerang pemerintahan Joko Widodo. Namun, imbuh Yurgen, hasil Program Keluarga Harapan (PKH) yang dicanangkan sejak tahun 2007 sudah menepis serangan dari oposisi.

“Terkait stunting, pemerintah sudah menurunkan angka stunting 7 persen dan akan diturunkan sampai 20 persen ya. Dan ini kombinasi dari beberapa kebijakan pemerintah, seperti misalnya PKH itu ikut menurunkan angka stunting, artinya solusi yang ditawarkan Kiai Ma’ruf itu terukur ya,” tambah Yurgen.

Mantan jurnalis ini pun, melihat hal yang bertolak belakang dalam penampilan Calon Wakil Presiden 02, Sandiaga Uno. Sandiaga, kata dia, lebih banyak bermain pada gimmick di atas panggung. “Cawapres Sandi hanya bikin gimik-gimik aja,” ungkap dia.

Setidaknya, Yurgen membaca ada tiga poin kebijakan yang ditawarkan Sandi, yang tidak melalui proses perumusan matang, dan terkesan asal-asalan. Bahkan, khusus untuk program olahraga 22 menit, Sandi terkesan hanya menjiplak kebijakan pemerintah.

“Kiai kan bertanya soal instrumen yang bagus untuk mengawasi dana transfer pendidikan ke daerah, jawabannya malah menghapus UN (Ujian Nasional), jadi enggak nyambung gitu,” ujar Yurgen.

Selain itu, kata Yurgen, Sandi juga tidak menjelaskan kebijakan sedekah putih yang ditanyakan Kiai Ma'ruf khususnya dalam mengurangi stunting. Pasalnya, seharusnya kebijakan publik itu harus ada bukti dan didesain berdasarkan eksperimen dulu.

“Misal 22 menit olahraga, ini maksudnya promotif-preventif kan? Kita sudah punya Germas (Gerakan Masyarakat Sehat) itu juga gerakan promotif-preventif yang sudah dilakukan pemerintah, sehingga tidak ada ide baru, tidak ada desain kebijakan yang masuk akal ditawarkan oleh Sandi,” lanjut Yurgen.

Terakhir, Yurgen menyampaikan kritikannya kepada Sandi terkait rencana menghapus Ujian Nasional (UN). Baginya, meskipun populis, rencana Sandi itu akan bertentangan dengan amanah UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

“Kritik saya untuk Sandi yang akan menghapus UN. Itu (menghapus UN) rnggak bisa, karena apa? Di UU sudah diisyaratakan harus ada evaluasi nasional terkait proses kegiatan pendidikan. Kalau tidak ada UN lalu bagaimana pemerintah mau mengevaluasi kebijakan pendidikan selama ini, wilayah-wilayah mana yang performa pendidikannya tertinggal, apakah karena faktor guru, atau karena saran dan prasarana," katanya.



Sumber: BeritaSatu.com