Kehadiran MRT Diyakini Mampu Ubah Budaya dan Pola Hidup Masyarakat

Kehadiran MRT Diyakini Mampu Ubah Budaya dan Pola Hidup Masyarakat
Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno meyakini kehadiran MRT mampu mengubah budaya dan pola hidup masyarakat.
Ahmad Salman / AIS Rabu, 20 Maret 2019 | 16:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Moda Raya Terpadu (MRT) telah hadir di Jakarta. Keberadaan MRT yang rencananya beroperasi secara komersil pada 24 Maret itu diharapkan mampu mengubah budaya dan pola hidup masyarakat.

Menurut Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno perubahan tersebut diyakini bisa terealisasi. Ia mencontohkan perilaku penumpang KRL pada 2013 lalu dengan sekarang. Saat itu banyak penumpang memenuhi gerbong hingga ada yang naik ke atap kereta.

Kini, tambah Djoko, gerbong KRL terpasang AC dan pintu tertutup. Tindakan tegas diambil bila masih ditemukan penumpang di atap kereta. Dan hasilnya tak ada penumpang naik ke atap kereta.

Begitu pula saat penumpang hendak naik atau turun dari kereta api. Semua penumpang masuk stasiun harus tap in. Dan selesai naik kereta dan keluar stasiun harus tap out. Semua berjalan teratur.

"Ternyata bisa," ucap Djoko.

Rencananya pada Fase I, MRT Jakarta akan melewati 13 stasiun. Tujuh di antaranya stasiun layang di Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja. Sementara stasiun bawah tanah berada di Senayan, Dukuh Atas, Setiabudi, Bendungan Hilir, Istora, dan Bundaran Hotel Indonesia.

Saat beroperasi nanti MRT mampu mengangkut 130 ribu penumpang setiap hari.



Sumber: BeritaSatu TV