Kejar Target 2024, BPPT Harus Cetak 250 Doktor

Kejar Target 2024, BPPT Harus Cetak 250 Doktor
Kepala BPPT yang baru Hammam Riza. ( Foto: Beritasatu Photo / Ari Supriyati )
Ari Supriyanti Rikin / EAS Kamis, 21 Maret 2019 | 15:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) akan mencetak 200-250 doktor hingga tahun 2024 untuk mengejar kemajuan inovasi. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) harus diimbangi kehadiran sumber daya manusia (SDM) iptek yang mumpuni.

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan, saat ini jumlah doktor di BPPT baru sekitar 5% dari total seluruh pegawai BPPT , yakn 150 doktor. Sementara tiga tahun lagi ada 77 doktor pensiun. Oleh karena itu, BPPT menargetkan 200-250 doktor hingga tahun 2024.

"BPPT berjanji memberi beasiswa dan keberpihakan alokasi anggaran, beasiswa dari instansi lain, lembaga internasional untuk kita berangkatkan belajar seperti keluar negeri," katanya di sela-sela pembukaan Kongres Teknologi Nasional (KTN) 2019, di Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Menurut Hammam, calon pegawai negeri sipil ini merupakan kaum milenial yang pada 15-20 tahun mendatang menjadi perekayasa madya.

"BPPT harus punya kompetensi sehingga menjadi lembaga kaji terap dan eksistensinya tetap terjaga," ucapnya.

KTN 2019 bertema "Penguatan SDM Iptek sebagai Penghela Pertumbuhan Ekonomi Menuju Indonesia Maju dan Mandiri" juga dihadiri Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Syafruddin, Menteri Pariwisata Arief Yahya dan pejabat di lingkungan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Dalam kesempatan itu, Hammam juga menyebut untuk keluar dari negara berpenghasilan menengah, yang saat ini dialami Indonesia, pemanfaatan iptek dan inovasi harus dijadikan modal utama.

"Agar tidak terjebak sebagai negara berpenghasilan menengah, Indonesia harus mampu mentransformasi perekonomiannya dari berbasis komoditas menjadi berbasis inovasi," paparnya.

Dalam beberapa tahun belakangan ini GDP per kapita Indonesia mengalami peningkatan, walau masih berada di bawah US$ 4.000 yang dikategorikan sebagai negara berpenghasilan menengah.

Berdasarkan Global Competitiveness Index 2018-2019 (World Economic Forum), posisi Indonesia dengan besaran GDP per kapita US$ 3, 876 ini masuk dalam kategori tingkat efficiency driven economy, yang masih mengandalkan kekayaan sumber daya alam, tenaga kerja murah, dan pasar domestik yang besar.

Hammam menyatakan, agar terlepas dari jebakan penghasilan menengah dan menjadi negara maju, Indonesia harus memanfaatkan iptek dan inovasi.

"Hal itu dapat meningkatkan nilai tambah kekayaan sumber daya alam yang luar biasa dan sumber daya manusianya yang sangat potensial," ucap Hammam.



Sumber: Suara Pembaruan