Rommy Merasa Ditarget Karena Punya Banyak Followers

Rommy Merasa Ditarget Karena Punya Banyak Followers
Ketua umum PPP Romahurmuziy mengenakan rompi tahanan seusai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Sabtu 16 Maret 2019. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao. / SP/Joanito De Saojoao. )
Fana Suparman / FMB Jumat, 22 Maret 2019 | 17:02 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy (Rommy) kembali melontarkan tudingan penangkapan dan penetapan tersangka terhadapnya atas kasus dugaan suap jual beli jabatan di Kementerian Agama (Kemag) yang menjeratnya sebagai tersangka telah ditarget pihak tertentu. Dengan percaya diri, Rommy menyebut ditarget lantaran menjadi ketua umum sebuah partai yang memiliki pengikut atau followers terbanyak di media sosial.

"Apa yang saya lakukan ini salah satunya karena posisi saya yang memang salah satu most wanted yang kira-kira kalau kemudian dilakukan operasi dipilih ketua umum dengan follower terbesar di medsos, begitulah kira-kira," kata Rommy di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (22/3/2019).

Meski demikian, Rommy meminta setiap pihak tidak mengaitkan kasus yang menjeratnya dengan PPP. Rommy menyebut kasus yang menjeratnya merupakan persoalan pribadinya dan tidak ada kaitan dengan PPP.

"Saya juga sekali lagi menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh kader PPP. Apa yang saya lakukan tidak ada urusannya dengan PPP," katanya.

Diberitakan, KPK menetapkan Rommy, sapaan Romahurmuziy bersama Kepala Kantor Kemag Kabupaten Gresik, Muhammad Muafaq Wirahadi dan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemag Provinsi Jawa Timur (Jatim), Haris Hasanuddin sebagai tersangka kasus dugaan suap jual beli jabatan di lingkungan Kemag. Muafaq dan Haris diduga telah menyuap Rommy untuk mengurus proses lolos seleksi jabatan di Kemag. Muafaq mendaftar untuk posisi Kepala Kantor Kemag Kabupaten Gresik dan Haris mendaftar sebagai Kakanwil Kemag Provinsi Jatim.

Pada 6 Februari 2019, Haris mendatangi kediaman Rommy dan menyerahkan uang sebesar Rp250 juta untuk memuluskan proses seleksi ini sesuai kesepakatan. Saat itu, KPK menduga telah terjadi pemberian suap tahap pertama. Namun, pada pertengahan Februari 2019, pihak Kemag menerima informasi bahwa nama Haris Hasanuddin tidak lolos seleksi untuk diusulkan ke Menteri Agama karena pernah mendapatkan hukuman disiplin.

KPK menduga telah terjadi kerja sama antara pihak-pihak tertentu untuk tetap meloloskan Haris Hasanuddin sebagai Kakanwil Kemag Provinsi Jatim.

Selanjutnya, Haris Hasanuddin dilantik oleh Menag sebagai Kakanwil Kemag Jatim pada awal Maret 2019. Setelah Haris lolos seleksi dan menjabat Kakanwil Kemag Jatim, Muafaq meminta bantuan kepada Haris untuk dipertemukan dengan Rommy. Pada Jumat (15/3) lalu, Muafaq, Haris, dan Calon Anggota DPRD Kabupaten Gresik dari PPP, Abdul Wahab menemui Rommy untuk menyerahkan uang Rp50 juta terkait kepentingan jabatan‎ Muafaq. 



Sumber: Suara Pembaruan