BNN Gelar Rapimnas Atasi Masalah Narkoba di Generasi Milenial

BNN Gelar Rapimnas Atasi Masalah Narkoba di Generasi Milenial
Rapimnas BNN ( Foto: Suara Pembaruan/Carlos Roy Fajarta )
Carlos Roy Fajarta / CAH Senin, 25 Maret 2019 | 11:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com -  Badan Narkotika Nasional (BNN) menggelar secara perdana rapat pimpinan nasional (rapimnas) yang dihadiri oleh seluruh jajaran BNN Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia, Senin (25/3/2019). Bertemakan "Kita Mantapkan Pelaksanaan P4GN Mewujudkan Generasi Milenial Bersih Narkotika" BNN fokus dalam upaya pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

"Sesuai Inpres Nomor 6 Tahun 2018 tentang rencana aksi nasional P4GN maka kita akan semakin mensinergikan untuk mengurangi tingginya angka penyalahgunaan narkotika," ujar Kepala BNN, Komjen Pol Heru Winarko, di lokasi rapimnas di Bidakara, Jakarta Selatan.

Heru menyebutkan peran sumber daya manusia secara sinergis dan komprehensif dengan mengedepankan etika kegiatan operasional dan soliditas organisasi perlu dijaga agar P4GN dari pusat hingga pelosok daerah lebih optimal.

"Sebanyak 40.553 kasus yang melibatkan 53.251 tersangka diungkap oleh BNN dan Polri dengan barang bukti ganja seberat 41,3 ton, 1,55 juta butir ekstasi, dan 8,2 ton sabu," ungkap Komjen Pol Heru Winarko.

Dikatakan Heru, ganja masih menjadi jenis narkotika yang perlu mendapatkan perhatian khusus pasalnya BNN telah menemukan 47 hektar lahan ganja di Indonesia.

Dari hasil penelitian bersama BNN dengan LIPI di 2018, angka prevalensi kelompok pelajar dan mahasiswa sebesar 3,210% atau 2.297.492 orang. Sedangkan pada pekerja sebesar 2,1 persen atau 1.514.037 orang.

"Narkotika jenis baru bertambah terus menerus, dari berbagai data setiap negara setidaknya ada 803 jenis narkotika baru dimana di Indonesia telah beredar setidaknya 74 jenis narkotika baru dan sudah diatur dalam Permenkes sebanyak 66 jenis sedangkan yang belum diatur ada 8 jenis," tutur Komjen Pol Heru Winarko.

Deputi Berantas BNN, Irjen Pol Arman Depari menyebutkan pihaknya terus meningkatkan kerjasama dengan institusi badan narkotika dari berbagai negara. Ia mengingatkan metode yang dilakukan oleh para penyalahguna narkoba.

"Peredaran narkotika 60-70 persen sudah menggunakan teknologi informasi. Malahan sekarang menggunakan medsos, nanti kembali lagi menggunakan cara-cara tradisional. Kita juga mendeteksi ada 14 negara tujuan untuk pencucian uang dari kegiatan narkoba," kata Arman Depari.

 



Sumber: Suara Pembaruan