Mbak Tutut: Beri Kaum Muda Kesempatan Buktikan Kemampuan Mereka

Mbak Tutut: Beri Kaum Muda Kesempatan Buktikan Kemampuan Mereka
Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut. ( Foto: Istimewa )
Surya Lesmana / LES Rabu, 27 Maret 2019 | 17:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Siti Hardiyanti Rukmana yang lebih akrab dipanggil Mbak Tutut, mendorong generasi muda untuk senantiasa menyiapkan diri menerima estafet kepemimpinan dengan disiplin dan terus berkarya. Berdisiplin dan terus berkreasi untuk keutamaan negeri, menurut Mbak Tutut akan menjamin kesiapan generasi yang lebih muda menggantikan para seniornya.

“Saya mengimbau, tepatnya mendorong agar generasi muda senantiasa percaya diri, disiplin dan memupuk keinginan untuk selalu berkarya demi bangsa dan negara,” kata Mbak Tutut di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (27/3/2019).

Putri sulung Presiden Soeharto yang sudah berusia usia 70 ini diketahui sudah matang dengan aneka pengalaman hidup dan urusan kenegaraan.

Mbak Tutut ditemui pada kesempatan konsolidasi para calon anggota legislatif Partai Berkarya, di kawasan Menteng.

Menurut Mbak Tutut, para senior yang kaya pengalaman seyogyanya melakukan apa yang dalam kearifan lokal disebut tut wuri handayani, atau dari belakang senantiasa memberikan dorongan dan kekuatan.

Namun Mbak Tutut menekankan, seorang senior seharusnya berlapang dada untuk memberi kesempatan kepada kaum muda membuktikan kemampuan mereka. ”Kalau anak-anak muda itu tidak dipercaya, karena tidak mempunyai pengalaman, lalu sampai kapan mereka memperoleh kesempatan untuk mendapatkannya?” tanya Mbak Tutut.

Ia mencontohkan apa yang dialaminya saat mendapatkan kepercayaan sebagai kalangan swasta pertama yang membangun jalan tol. Apalagi jalan tol itu merupakan jalan layang dengan topangan sistem beton Sosrobahu karya cipta anak bangsa. Mbak Tutut menceritakan, saat itu ia memilih anak-anak muda di bawah usia 40 tahun, mulai dari pimpinan proyek, tenaga ahli dan tenaga ahli lapangan sampai pekerja, sempat diragukan keputusannya.

Mereka yang meragukan umumnya bertanya-tanya mengapa dirinya tidak memilih tenaga profesional yang lebih senior, melainkan anak-anak muda yang belum berpengalaman.

“Mungkin mereka lupa, bahwa tenaga-tenaga profesional itu dulunya juga berangkat dari anak muda yang tidak punya pengalaman,” kata Mbak Tutut.

Akhirnya Jalan Layang Tol Cawang-Tanjung Priok itu pun terbangun, dengan mengadopsi teknologi beton karya cipta Ir Tjokorda Raka Sukawati. Terbukti hingga saat ini kondisinya masih kokoh, tegar menahan segala terpaan cuaca.

Menurut Mbak Tutut, dia mengambil risiko dengan memberi kesempatan kepada kaum muda tersebut tak lain untuk menunjukkan identitas diri mereka, bahwa mereka pun mampu menjawab tantangan-tantangan yang ada. “Saya tidak mau melihat generasi penerus kita itu hanya sebatas menjadi penonton keberhasilan senior-seniornya,” kata Mbak Tutut.

Karena itulah menurut Mbak Tutut, tugas para senior adalah menyiapkan kesempatan yang seluas-luasnya, agar setiap individu, memperoleh kebebasan berpikir dan bertindak, tetapi tetap bertanggung jawab atas kebebasan yang diberikan kepadanya.

Sebagaimana diketahui, pada saat menerima amanah sebagai pemenang pembangunan jalan layang tol swasta pertama di Indonesia, Mbak Tutut pada 1986 itu masih berusia 37 tahun. Ia merekrut para anak muda di bawah 40 tahun. Di antaranya Djoko Ramiaji yang saat itu masih berusia 33 tahun sebagai pimpinan proyek, Joko Purwanto (32 tahun) sebagai wakil pimpro, Arie Prabowo (30) sebagai manager divisi pengendalian dan operasi, Thamrin Tanjung (39) sebagai general super intendance, Bambang Soeroso (37) sebagai manajerial pusat dan sebagainya.

Menurut Mbak Tutut, terbukti proyek itu kemudian tidak hanya menghasilkan sepenggal jalan modern yang menggantung di atas tanah, tetapi mampu mengembangkan sikap baru bagi bangsa Indonesia. “Akhirnya kita yakin bahwa tidak ada istilah tidak mungkin atau tidak bisa,” kata Mbak Tutut.

Belakangan, kemampuan anak bangsa Indonesia dalam bidang konstruksi itu kemudian diakui di luar negeri. “Kami memenangi tender pembuatan jalan tol di Malaysia (at grade) dan Filipina (elevated road), Di sana pun kami menggunakan sistem Sosrobahu,” tutup Mbak Tutut.



Sumber: Suara Pembaruan