Ditahan, Jokdri Masih Syok dan Lebih Banyak Beribadah

Ditahan, Jokdri Masih Syok dan Lebih Banyak Beribadah
Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono (tengah) saat tiba di gedung Krimum sebelum menjalani pemeriksaan, Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis 21 Februari 2019. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao / SP/Joanito De Saojoao )
Bayu Marhaenjati / CAH Jumat, 29 Maret 2019 | 16:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengacara Joko Driyono, Andru Bimaseta mengatakan, kliennya masih mengalami syok karena tiba-tiba harus meringkuk di balik terali besi terkait kasus memasuki garis polisi dan perusakan barang bukti.

"Sehat, tapi masih syok karena aktivitas beliau kan banyak sebelum dilakukan penahanan. Tiba-tiba kemerdekaannya diambil ya, pasti masih syok," ujar Andru, Jumat (29/3/2019).

Dikatakan Andru, Jokdri -panggilan akrab Joko Driyono- banyak memanfaatkan waktu untuk beribadah di ruang tahanan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.

"Beliau lebih banyak beribadah karena kondisinya beda sekali dari di luar dan tahanan. Beliau menyampaikan keadaannya berbeda, harus membiasakan diri," ungkap Andru.

"Intinya beliau masih syok di tahanan. Secara manusiawai nggak tegalah, kan beliau biasa sibuk. Kalau di tahanan kan nggak ada komputer, sementara beliau terbiasa beraktivitas di depan komputer sehari-sehari," tambahnya.

Menyoal apakah pihak keluarga sudah ada yang menjenguk, Andru menuturkan, belum mendapatkan informasi.

"Sampai kemarin saya belum mendapatkan informasi ada keluarga yang menjenguk. Sore ini saya coba tanyakan lagi, ttetapi untuk masalah keluarga itu kan masalah personal ya, biasanya saya hanya menanyakan kondisi kesehatannya bagaimana," kata Andru.

Sebelumnya, Jokdri resmi ditahan terkait kasus dugaan memasuki garis polisi dan perusakan barang bukti, di Mapolda Metro Jaya, Senin (25/3/2019) kemarin. Jokdri yang mengenakan rompi tahanan warna oranye enggan berkomentar ketika dibawa penyidik ke ruang tahanan, sekitar pukul 00.15 WIB, Selasa (26/3/2019) dini hari.

Penyidik menetapkan Jokdri sebagai tersangka karena diduga menyuruh tersangka Muhammad Mardani alias Dani, Musmuliadi alias Mus, dan Abdul Gofur untuk merusak atau menghancurkan barang bukti di Kantor Komdis PSSI.



Sumber: BeritaSatu.com