BNPB: Kerugian Banjir Bandang Sentani Capai Rp 454 Miliar

BNPB: Kerugian Banjir Bandang Sentani Capai Rp 454 Miliar
Warga berada di dekat pesawat udara yang terdampak banjir bandang di Sentani. ( Foto: Antara )
Ari Supriyanti Rikin / FMB Jumat, 29 Maret 2019 | 16:56 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut data sementara kerugian dan kerusakan banjir bandang Sentani, Jayapura, Papua mencapai Rp 454 miliar.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, data kerugian dan kerusakan itu masih data sementara yang dihitung untuk kebutuhan masa pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi.

"Untuk kerugian dan kerusakan permukiman mencapai Rp 252 miliar, infrastruktur Rp 174 miliar, ekonomi Rp 22,6 miliar, sosial dan rumah ibadah Rp 4 miliar dan lintas sektor Rp 1 miliar," katanya dalam konferensi Penanggulangan Bencana di kantor BNPB, Jumat (29/3/2019).

Dari data sementara itu lanjutnya, di masa rehabilitasi dan rekonstruksi nantinya akan dibangun infrastruktur, permukiman dan membangkitkan kembali perekonomian di sana. Relokasi pun akan dilakukan dari zona merah atau rawan bencana mengacu pada pemetaan yang dilakukan BNPB bersama sejumlah institusi.

Sutopo menambahkan, untuk lahan relokasi, pemerintah daerah masih mencari tempat yang aman.

Masa tanggap darurat banjir bandang Sentani berakhir pada Jumat (29/3). Setelah itu dilanjutkan transisi darurat menuju pemulihan.

"Masih transisi darurat, karena masih ada pengungsi," ucapnya.

Lama masa pemulihan lanjutnya, bergantung dari surat keputusan bupati setempat, bisa satu-tiga bulan.

BNPB mencatat, banjir bandang Sentani mengakibatkan 112 orang meninggal dunia, di mana 77 jenazah berhasil diidentifikasi tim DVI Polri dan sebanyak 88 orang hilang.

"Di Sentani banyak pendatang yang tidak memiliki rekam identitas, baik yang meninggal maupun yang masih hilang," ungkap Sutopo.

Sementara itu korban luka-luka mencapai 961 orang terdiri dari 150 luka berat dan 808 luka berat. Jumlah pengungsi mencapai 5.347 jiwa terdiri dari 962 keluarga yang tersebar di 21 titik pengungsian.

"Logistik untuk 14 hari ke depan mencukupi. Kebutuhan yang masih diperlukan salah satunya air bersih," ujarnya.

Sutopo mengungkapkan, pemulihan ekosistem akan dilakukan dengan melakukan penanaman. Naturalisasi sungai yang kini rata dengan tanah akan dilakukan.

Selain itu, tiga bendungan alami bersusun yang ada di pegunungan Cycloop akan dibongkar untuk mengalirkan air sehingga tidak terjadi banjir bandang susulan.

BNPB menyebut, banjir bandang Sentani merupakan kombinasi dari faktor alam dan antropogenik. Curah hujan ekstrem mencapai 248,5 milimeter per hari dan lereng pegunungan yang curam membuat bendung alam di atas tidak mampu menampung air yang besar dan akhirnya jebol.



Sumber: Suara Pembaruan