Parade Budaya, dari Singaraja untuk Nusantara

Parade Budaya, dari Singaraja untuk Nusantara
Suasana parade budaya yang digelar dalam rangka peringatan HUT ke-415 Kota Singaraja yang dilaksanakan di sepanjang Jalan Ngurah Rai Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, Sabtu (30/3/2019). ( Foto: istimewa )
Bernadus Wijayaka / BW Senin, 1 April 2019 | 12:07 WIB

Buleleng, Beritasatu.com - Parade budaya yang digelar dalam rangka peringatan ulang tahun ke-415 Kota Singaraja, Sabtu (30/3/2019), berlangsung meriah. Parade ini menampilkan sejumlah tradisi yang ada di Kabupaten Buleleng, Bali. Penampilan ribuan peserta parade dari sembilan kecamatan itu pun berhasil memukau penonton yang memadati area pementasan yang dilaksanakan di sepanjang Jalan Ngurah Rai Singaraja.

Dalam laporannya, Kepala Dinas Kebudayaan Gede Komang mengungkapkan, parade budaya yang digelar ini mengambil tema Singa Praja Tattwa, yang memiliki makna Meneladani Keteladanan Ki Barak Panji Sakti. Ki Barak Panji Sakti begitu berjaya saat memimpin kerajaannya. Oleh sebab itu, banyak fragmentari tentang sejarah yang berkaitan dengan ketangguhan Raja Gusti Panji Sakti yang dipersembahkan untuk masyarakat Buleleng.

Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana dalam sambutannya mengatakan, parade budaya merupakan suguhan yang khas, menarik, dan unik yang menampilkan kreativitas masyarakat Buleleng.

Menurutnya, sejumlah pementasan seni dan budaya yang ditampilkan oleh pelaku seni itu menjadi daya tarik tersendiri bagi seluruh masyarakat Buleleng yang menyaksikan.

“Kita telah bersepakat untuk bersatu dalam multikulturalisme, bersatu merangkai warna Nusantara,” tandas Putu Agus Suradnyana dalam keterangan tertulisnya kepada Beritasatu.com.

Lebih lanjut dia mengatakan, segala yang dilakukan oleh para pelaku seni tersebut sebagai wujud partisipasi para seniman dan budayawan dalam melestarikan dan mengembangkan kesenian serta budaya Buleleng.

Bupati Putu Agus juga menyebut, parade budaya ini sebagai wujud kebersamaan guna membangun masyarakat Buleleng yang bermartabat melalui bidang seni, budaya, dan pariwisata.

“Teruslah berkreasi, dan terus berupaya menggapai prestasi puncak untuk kemajuan seni, budaya, dan pariwisata di Kabupaten Buleleng,” pinta Putu Agus.

Selain beberapa fragmen yang mengungkap sejarah perjalanan pendiri Puri Singaraja itu, parade budaya kali ini juga disuguhkan tradisi yang ada di beberapa desa di Buleleng. Tradisi Siat Sambuk misalnya, tradisi ini biasa dilakukan oleh Krama Desa Negak dan Pemangku dari Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula. Tradisi yang dalam bahasa Indonesia ini berarti Perang Sabut Kelapa dilaksanakan saat Pengerupukan (sehari sebelum hari Nyepi) di Pura Desa Tejakula.

Duta Kecamatan Gerokgak menampilkan tradisi Gebug Ende. Tradisi ini diyakini berasal dari Kabupaten Karangasem yang dibawa oleh penduduk dari Gumi Lahar tersebut ketika bermigrasi ke Buleleng, tepatnya di Kecamatan Gerokgak. Tarian ini merupakan tarian persahabatan dan sering juga digunakan untuk memohon turun hujan.



Sumber: Suara Pembaruan