Pemprov Banten Minta Menpar Dukung Wisata Berbasis Mitigasi Bencana

Pemprov Banten Minta Menpar Dukung Wisata Berbasis Mitigasi Bencana
Para peserta Fun Bike melinta di pingiran pantai saat acara Anyer Urban Festival 2019 di Pantai Anyer, Banten, Jawa Barat, Sabtu (30/3/2019). ( Foto: Beritasatu Photo/Ist/Uthan )
Laurens Dami / JEM Selasa, 2 April 2019 | 15:27 WIB

Pandeglang, Beritasatu.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten meminta dukungan pemerintah pusat agar kebijakan pembangunan pariwisata kawasan Anyer, Carita, dan Tanjung Lesung, pascatsunami Selat Sunda beberapa waktu lalu, bisa dikembangkan dengan pola pengembangan wisata berkelanjutan dan berbasis mitigasi bencana.

Pariwisata berbasis migitasi bencana tersebut merupakan salah satu program dalam gerakan rekonstruksi pariwisata pascabencana.

“Unsur-unsur yang harus dipenuhi dalam pengembangan dan pengelolaan daya tarik wisata yang terdiri atas aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah dan kenangan atau yang lazim disebut Sapta Pesona perlu menjadi perhatian bersama,” kata Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy dalam sambutannya pada acara HUT Kabupaten Pandeglang ke-145 di Alun-alun Pandeglang, Senin (1/4/2019). Hadir dalam acara tersebut Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Bupati Pandeglang Irna Narulita.

Menurut Andika, pemulihan Sapta Pesona pariwisata di kawasan Anyer-Carita dan Tanjung Lesung harus didukung dengan rekonstruksi amenitas dan aksesibilitas yang menjadi faktor penting yang harus dikelola dalam konteks pembangunan kepariwisataan yang berkesinambungan.

Andika mengungkapkan, wisata bahari di Provinsi Banten sangat potensial dengan 82 jumlah pantai dan panjang garis pantai sepanjang 509 km, dengan khusus pantai di wilayah Selat Sunda terdapat 54 pantai dengan garis pantai sepanjang 97,6 km.

“Kegiatan pariwisata telah menjadi salah satu industri besar yang berkontribusi bagi ekonomi di Provinsi Banten,” ujar Andika.

Terkait pengembangan pariwisata berbasis mitigasi bencana, kata Andika, Pemerintah Provinsi Banten berharap program sertifikasi kesiapsiagaan bencana bagi penyedia jasa industri pariwisata dan jasa lainya bisa segera dilakukan dengan menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten dan BPBD kabupaten/kota serta Dinas Pariwisata.

Sementara itu, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, pasca terjadi bencana pada Desember 2018 lalu, pariwisata di sekitar wilayah pesisir Selat Sunda sudah kembali aman. Penegasan tersebut, kata dia, didasari oleh hasil pengamatan dari Badan Geologi terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau pasca-tsunami Selat Sunda yang telah menunjukkan penurunan aktivitas dan tidak ada fenomena bertumbuh.

“Radius amannya itu 2 km dari kawah Anak Krakatau, bukan dari pesisir pantai. Dengan demikian kawasan wisata di Selat Sunda aman dikunjungi wisatawan," ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Lebih lanjut, Menpar menuturkan, untuk mendongkrak sektor pariwisata pesisir Selat Sunda, pihaknya telah menyusun 49 kegiatan di daerah pariwisata terdampak bencana.

Dari 49 kegiatan tersebut, kata Arief, 14 kegiatan terkait SDM, 19 kegiatan terkait pemasaran dan promosi, dan 16 kegiatan terkait destinasi. “Dari 49 kegiatan sudah kita laksanakan 16 kegiatan," ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya.



Sumber: Suara Pembaruan