Pekan Kebudayaan Nasional Ajang Populerkan Permainan Tradisional

Pekan Kebudayaan Nasional Ajang Populerkan Permainan Tradisional
Ilustrasi permainan tradisional. ( Foto: Humas Kemdikbud )
Maria Fatima Bona / WBP Rabu, 3 April 2019 | 07:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktorat Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) terus melakukan upaya dalam mempopulerkan kembali tradisi dan budaya tradisional di seluruh Indonesia melalui Pekan Kebudayaan Nasional (PKN). Kegiatan ini menjadi salah satu resolusi Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 yang dilaksanakan di tingkat kabupaten dan kota di seluruh Indonesia dan puncaknya dilaksanakan pada 14 sampai 19 Oktober di Jakarta.

"Untuk pekan ini, PKN disenggarakan di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat (Jabar)," kata Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman (PCBM) Kemdikbud, Fitra Arda berdasarkan siaran pers yang diterima Beritasatu.com, Rabu (3/4/2019).

Dijelaskan Fitra Arda, PKN yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tasikmalaya bertujuan untuk mempopulerkan kembali permainan tradisional. Pasalnya, banyak permainan tradisional yang terancam punah seiring perkembangan teknologi. "Ditjen Kebudayaan Kemendikbud berupaya mengembalikan roh permainan tradisional di tengah-tengah masyarakat modern," kata Fitra Arda.

Lanjut Fitra Arda, rangkaian PKN Kabupaten Tasikmalaya memperlombakan permainan tradisional yakni jajangkungan, kelom batok, pecle, hingga perepet jengkol. Permainan tradisonal khas Sunda itu sudah hampir punah di tengah banyaknya permainan modern.

Dengan terselenggaranya kegiatan tersebut, Fitra Arda berharap, ke depannya tumbuh nilai-nilai pendidikan karakter dan pemajuan kebudayaan secara konkret. "Kami harap kegiatan seperti ini juga digelar di kabupaten dan kota lain, sehingga pada Pekan Kebudayaan Nasional nanti lebih banyak daerah yang terlibat," ungkap Fitra Arda.

Sementara Bupati Tasikmalaya, Ade Sugianto, menuturkan permainan tradisional ini sungguh luar biasa dan mungkin jarang didengar misalnya, prepet jengkol dan serodot galpok. "Kita wajib melestarikan karena banyak nilai kebaikan yang tercermin dalam permainan tradisional. Permainan ini tidak hanya menumbuhkan nilai kekompakkan atau kebersamaaan, tapi juga nilai pendidikan," imbuh Ade Sugianto.

Seperti diketahui, PKN 2019 dapat disenggarakan di kabupaten atas inisiatif komunitas yang didukung oleh pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Dalam program yang akan berjenjang hingga tingkat nasional ini terdapat kegiatan perlombaan, pameran dan berbagai diskusi.

PKN merupakan sarana interaksi budaya dan memberi ruang akses kepada publik agar bisa terlibat langsung dalam perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan kekayaan budaya. PKN sebelumnya telah digelar di Kabupaten Tulungagung (Jatim), dan Kabupaten Asahan (Sumut).



Sumber: Suara Pembaruan