ASEAN Bahas Radikalisasi di Bali

ASEAN Bahas Radikalisasi di Bali
Kedeputian Bidang Kerja Sama Internasional Direktorat Kerja Sama Regional dan Multilateral Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggelar pertemuan ASEAN Cross-Sectoral and Cross-Pillar, di Hotel Pullman Bali, 4-5 April 2019. ( Foto: istimewa )
Bernadus Wijayaka / BW Kamis, 4 April 2019 | 14:32 WIB

Bali, Beritasatu.com - Kedeputian Bidang Kerja Sama Internasional Direktorat Kerja Sama Regional dan Multilateral Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggelar pertemuan ASEAN Cross-Sectoral and Cross-Pillar, di Hotel Pullman Bali, 4-5 April 2019.

Pertemuan itu untuk menyusun rencana kerja ASEAN Plan of Action to Prevent and Counter the Rise of Radicalisation and Violent Extremism (ASEAN PoA P/CVE) 2018-2025. Pertemuan untuk membahas radikalisasi ini merupakan inisiatif Indonesia.

Agenda utama pertemuan ini adalah membahas draf rencana kerja yang telah disusun Indonesia. “Acara hari ini dihadiri oleh seluruh anggota ASEAN, sehingga kita dapat membuat rencana kerja bagaimana kita menghadapi kawasan-kawasan yang berkaitan dengan masalah violent extremism bersama-sama. Karena tidak mungkin kita mengatasi sendiri, tetapi harus bersama sama secara bilateral, regional (ASEAN) dan multilateral secara global (PBB),” kata Kepala BNPT Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius saat membuka kegiatan, Kamis (4/4/2019).

Suhardi mengungkapkan, beberapa inovasi BNPT untuk mengatasi masalah munculnya radikalisasi dan ekstremisme kekerasan yang mengarah pada terorisme, adalah pendekatan lunak.

“Berbagai upaya pencegahan yang dilakukan BNPT sebagai hasil kolaborasi dengan semua pihak, antara lain sinergi 36 K/L, pembentukan FKPT di 32 provinsi yang terdiri dari wakil pemerintah dan nonpemerintah, silaturahmi kebangsaan mantan teroris dan korban, pembangunan dua pesantren binaan mantan napi terorisme, membentuk duta damai 816 generasi milenial di 13 provinsi, membentuk pusat media damai, program kampus to kampus, program pemberdayaan masyarakat,” jelas mantan kabareskrim Polri ini.

Ryan Washburn, Deputy Mission Director USAID – Indonesia mengatakan, negara-negara ASEAN telah mengambil langkah saling berbagi informasi dan teknologi untuk menangkal terorisme. Indonesia pun telah menjadi salah satu pemimpin global dalam upaya melawan terorisme.

Washburn bangga menjadi mitra Indonesia dalam kegiatan ini. Ia beranggapan, sebagai pemimpin dalam kelompok kerja ini, Indonesia memiliki kepemimpinan unggul dan memiliki banyak pengalaman yang dapat dibagi kepada negara anggota ASEAN lainnya dalam mengatasi radikalisme dan terorisme. Sehingga, ke depan, hasil dalam kerja grup ini dapat diimplementasikan pada skala regional.



Sumber: Suara Pembaruan