Buka 15.000 Amplop Serangan Fajar Bowo Sidik, KPK Sita Rp 300 Juta

Buka 15.000 Amplop Serangan Fajar Bowo Sidik, KPK Sita Rp 300 Juta
Anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, 28 Maret 2019. ( Foto: ANTARA )
Fana Suparman / JAS Kamis, 4 April 2019 | 17:12 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membongkar satu persatu amplop berisi uang suap dan gratifikasi yang disiapkan anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar, Bowo Sidik Pangarso. Tim saat ini sedang membongkar amplop yang disimpan di kardus keempat dari 82 kardus dan dua boks kontainer yang disiapkan Bowo.

"Perkembangan penghitungan uang di amplop, sampai siang ini, tim mulai masuk pada kardus keempat‎," kata Jubir KPK, Febri Diansyah melalui pesan singkat, Kamis (4/4/2019).

Dari tiga kardus yang telah dibongkar, tim penyidik menemukan sekitar 15.000 amplop. Setiap amplop berisikan uang masing-masing Rp 20.000 atau Rp 50.000. Secara total terdapat uang Rp 300 juta dalam ribuan amplop di tiga kardus tersebut yang telah dibuka penyidik.

"Sejauh ini telah dibuka 15.000 amplop. Uang dalam amplop (yang sudah dibuka) berjumlah Rp 300 juta," katanya.

KPK memastikan akan membongkar 400.000 amplop yang berisi uang suap dan gratifikasi yang dikumpulkan dan disiapkan Bowo untuk serangan fajar saat hari pencoblosan pada 17 April 2019 mendatang. KPK membutuhkan waktu untuk mengungkap keseluruhan isi dalam amplop tersebut.

Dari amplop-amplop yang telah dibuka, tim penyidik menemukan adanya cap atau tanda jempol. Namun, KPK menyatakan, berdasarkan fakta hukum sejauh ini, amplop-amplop tersebut diperiksakan untuk kepentingan Bowo yang maju sebagai caleg Partai Golkar dari dapil Jawa Tengah II bukan untuk kepentingan Pilpres atau kepentingan lainnya.

Diberitakan, KPK menetapkan anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso dan anak buahnya, staf PT Inersia bernama Indung sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait distribusi pupuk. Selain Bowo dan Indung, KPK juga menjerat Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti sebagai tersangka.

Para pihak tersebut ditetapkan sebagai tersangka setelah diperiksa intensif usai ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu (27/3/2019) hingga Kamis (28/3/2019) dini hari.

Kasus ini bermula saat PT Humpuss Transportasi Kimia berupaya kembali menjalin kerja sama dengan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) untuk mendistribusikan pupuk PT Pupuk Indonesia menggunakan kapal-kapal PT Humpuss Transportasi Kimia.

Untuk merealisasikan hal tersebut, PT Humpuss meminta bantuan Bowo Sidik Pangarso. Pada tanggal 26 Februari 2019 dilakukan MoU antara PT Pilog dengan PT Humpuss Transportasi Kimia. Salah satu materi MoU tersebut adalah pengangkutan kapal milik PT Humpuss Transportasi Kimia yang digunakan oleh PT Pupuk Indonesia.

Atas bantuannya tersebut, Bowo meminta komitmen fee kepada PT Humpuss Transportasi Kimia atas biaya angkut yang diterima sejumlah US$ 2 per metric ton. Untuk merealisasikan komitmen fee ini, Asty memberikan uang sebesar Rp 89,4 juta kepada Bowo melalui Indung di kantor PT Humpuss Transportasi Kimia di Gedung Granadi, Jakarta, Rabu (27/3). Setelah proses transaksi, tim KPK membekuk keduanya.

Suap ini bukan yang pertama diterima Bowo dari pihak PT Humpuss Transportasi Kimia. Sebelumnya, Bowo sudah menerima sekitar Rp 221 juta dan US$ 85.130 dalam enam kali pemberian di berbagai tempat, seperti rumah sakit, hotel dan kantor PT Humpuss Transportasi Kimia.

Uang yang diterima tersebut telah diubah menjadi pecahan Rp 50.000 dan Rp 20.000 sebagaimana ditemukan tim KPK dalam amplop-amplop di sebuah kantor di Jakarta.

Selain dari Humpuss, KPK menduga Bowo juga menerima suap atau gratifikasi dari pihak lain. Saat OTT kemarin, tim Satgas KPK menyita uang sekitar Rp 8 miliar. Uang dalam pecahan Rp 20/000 dan Rp 50.000 itu dimasukkan dalam 400.000 amplop dengan 82 kardus dan dua boks kontainer.



Sumber: Suara Pembaruan