Peringati 2 Tahun Teror Novel Baswedan, Wadah Pegawai KPK Gelar Deklarasi

Peringati 2 Tahun Teror Novel Baswedan, Wadah Pegawai KPK Gelar Deklarasi
Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan melambaikan tangan saat menghadiri acara penyambutan dirinya kembali aktif bekerja di pelataran gedung KPK, Jakarta, 27 Juli 2018. Kegiatan itu sekaligus diselenggarakan untuk memperingati 16 bulan kasus penyerangan Novel Baswedan yang belum menunjukkan titik terang. ( Foto: Antara / Dhemas Reviyanto )
Fana Suparman / MPA Kamis, 4 April 2019 | 19:24 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com- Wadah Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (WP-KPK) bakal menggelar aksi damai dan deklarasi Anti-teror di pelataran lobi Gedung KPK, Jakarta (11/4) pekan depan. Deklarasi ini bertepatan dengan peringatan dua tahun teror dengan penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan.

"Minggu depan atau tepatnya tanggal 11 April 2019, KPK akan memperingati teror penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan yang menyebabkan matanya hampir buta namun pelakunya belum tertangkap," kata Ketua WP KPK, Yudi Purnomo dalam keterangan persnya yang diterima di Jakarta, Kamis(4/4).

Yudi menjelaskan aksi damai ini digelar untuk kembali meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Independen langsung di bawah Presiden. TGPF ini penting agar kasus teror terhadap Novel maupun teror terhadap pegawai dan pimpinan KPK diusut tuntas dan tidak terulang di kemudian hari.

"Bahwa teror merupakan upaya pelemahan KPK ditengah gencarnya KPK menangkap koruptor sesuai harapan rakyat Indonesia. Sehingga peringatan ini sekaligus momentum bahwa persoalan kejahatan kemanusiaan kepada penegak hukum harus dituntaskan sekaligus simbol bahwa rakyat indonesia bersatu melawan korupsi," tegas Yudi.

Aksi damai peringatan teror terhadap Novel ini rencananya akan dihadiri sejumlah tokoh nasional dan para mantan komisioner serta pegawai KPK sejak awal berdiri. Selain itu, acara juga rencananya akan diisi dengan pembacaan deklarasi antiteror terhadap KPK, serta sarasehan budaya oleh Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun, dan konser musik antikorupsi dari sejumlah musisi tanah air salah satunya yakni, eks Gitaris Iwan Fals Band, Digo.

"WP KPK menyebar seribu undangan kepada tokoh nasional, organisasi-organisasi yang pro pemberantasan korupsi, serta kepada mantan pimpinan sejak periode awal KPK dibentuk yaitu tahun 2003 dan mantan pegawai KPK yang saat ini bekerja di BPK, BPKP, kementerian Keuangan, kepolisian, kejaksaan, LPSK, OJK dan lainnya untuk mendeklarasikan Stop Teror kepada pegawai dan pimpinan KPK," papar Yudi.

Diketahui, Novel diteror dengan disiram air keras oleh dua orang tak dikenal pada 11 April 2017 lalu. Akibatnya, Novel harus mendapat perawatan intensif di salah satu rumah sakit di Singapura karena kedua matanya mengalami luka parah. Setelah menjalani serangkaian tindakan medis, termasuk operasi, Novel diizinkan tim dokter untuk kembali ke tanah air dan menjalani rawat jalan.

Di sisi lain, pihak kepolisian yang menangani kasus ini belum juga berhasil mengungkap dan menangkap pelaku maupun otak di balik teror terhadap Novel. Setelah hampir dua tahun menangani kasus ini, pihak kepolisian hanya mampu menggambar sketsa dua orang terduga pelaku. Tim gabungan yang dibentuk Kapolri, Jenderal Tito Karnavian pada 8 Januari 2019 pun tak membuahkan hasil hingga saat ini.



Sumber: Suara Pembaruan