Mantan Bendahara Akui Aliran Rp 6,3 Miliar untuk Kempora

Mantan Bendahara Akui Aliran Rp 6,3 Miliar untuk Kempora
Sekretaris Jenderal Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Ending Fuad Hamidy (tengah) berbincang dengan kuasa hukumnya seusai menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (11/3/2019). Ending didakwa menyuap Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga Mulyana agar membantu mempercepat proses persetujuan dan pencairan dana hibah Kemenpora yang akan diberikan kepada KONI. ( Foto: ANTARA FOTO / Sigid Kurniawan )
Fana Suparman / HA Kamis, 4 April 2019 | 21:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Bendahara Pembantu Pengeluaran Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kempora) Supriyono mengakui adanya aliran dana sebesar Rp 6,3 miliar dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) ke kementerian yang dipimpin Imam Nahrawi tersebut.

Pengakuan ini diungkapkan Supriyono saat bersaksi dalam sidang perkara dugaan suap pengurusan dana hibah dari pemerintah kepada KONI melalui Kempora dengan terdakwa Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (4/4/2019).

Mulanya, Jaksa KPK mempertanyakan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) milik Supriyono. Dalam BAP tersebut, Supriyono mengakui pernah menerima uang Rp 250 juta, Rp 50 juta, dan Rp 6,3 miliar di luar uang Rp 1 miliar yang diklaimnya dipinjam dari KONI.

Uang Rp 6,3 miliar tersebut menurut dia untuk menutupi kegiatan olahraga tahun 2017. Menjawab pertanyaan Jaksa, Supriyono mengakui pernah menerima uang tersebut.

"Iya benar, jadi pada 2017 ada beberapa kegiatan setelah SEA Games belum terbayar, sudah diajukan untuk dibayar tapi tetap belum cair, akhirnya disepakati ada bantuan dari KONI untuk reimburse," kata Supriyono menjawab pertanyaan Jaksa.

Supriyono mengatakan, uang Rp 6,3 miliar itu merupakan bentuk pinjaman yang harus dikembalikan Kempora ke KONI. Namun, hingga kini uang tersebut belum dikembalikan oleh Kempora ke KONI.

"Belum dikembalikan, karena anggaran tidak bisa cair, makanya pinjam ke KONI," ungkap Supriyono.

Supriyono menjelaskan alasan Kempora meminjam uang kepada KONI. Menurutnya, usai perhelatan SEA Games 2017 yang digelar di Kuala Lumpur, Kempora mendapat banyak tagihan terkait pelaksanaan perhelatan olahraga se-Asia Tenggara tersebut. Tagihan itu berupa akomodasi atlet sebesar Rp 200 miliar, anggaran Rp 500 miliar.

Dikatakan, proses untuk mengajukan pencairan ke pemerintah pusat sulit, sementara Kempora sudah ditagih untuk pelunasan sejumlah pengeluaran untuk SEA Games.

"Jadi waktu saya jadi BPP, tahun 2017 tagihan akomodasi atlet Rp 200 miliar, anggaran Rp 500 miliar, pulang SEA Games utang belum kebayar sama sekali. Semua hotel ancam mau somasi. Bagaimana cara untuk bisa bayar? Untuk proses pengajuan anggaran ke negara agak sulit harus melewati pokja sementara pokja karena tidak tahu proses pencarian hotel tidak berani tanda tangan. Jadi saya mau mundur karena tidak kuat cari uang, karena setiap ada yang minta bayar, perintah dari pimpinan 'tolong carikan, usahakan'," kata Supriyono yang mundur dari Kempora pada Maret 2018.

Supriyono mengatakan uang Rp 6,3 miliar dari KONI diterima dalam bentuk tunai. Setelah menerima uang tersebut langsung disetorkan ke rekening induk cabang olahraga squash.

"Diterima cash, langsung dimasukkan ke rekening squash. Induk cabang olahraga dulu masih saya pegang,‎" tuturnya.

Diketahui, Jaksa KPK mendakwa Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy dan Bendahara Umum KONI Jhonny E Awuy telah menyuap Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga Mulyana, PPK Kempora Adhi Purnomo dan staf Kempora Eko Triyanto dengan mobil merk Fortuner dan uang ratusan juta. Suap ini diberikan dua petinggi KONI tersebut untuk mempercepat proses persetujuan dan pencairan dana hiba‎h dari pemerintah melalui Kempora kepada KONI.



Sumber: Suara Pembaruan