Aspri Imam Nahrawi Berperan Penting Muluskan Dana Hibah

Aspri Imam Nahrawi Berperan Penting Muluskan Dana Hibah
Sekretaris Jenderal Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Ending Fuad Hamidy (tengah) berbincang dengan kuasa hukumnya seusai menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (11/3/2019). Ending didakwa menyuap Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga Mulyana agar membantu mempercepat proses persetujuan dan pencairan dana hibah Kemenpora yang akan diberikan kepada KONI. ( Foto: ANTARA FOTO / Sigid Kurniawan )
Fana Suparman / JAS Kamis, 4 April 2019 | 22:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP) Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kempora) Supriyono mengungkap peran Miftahul Ulum, asisten pribadi (Aspri) Menpora Imam Nahrawi dalam proses pemulusan bantuan hibah dari pemerintah ke Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) melalui Kempora.

Peran penting Miftahul Ulum itu diungkapkan Supriyono saat bersaksi dalam sidang perkara dugaan suap pengurusan dana hibah dari pemerintah kepada KONI melalui Kempora dengan terdakwa Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (4/4/2019).

Supriyono mengaku kerap menyarankan Ending untuk menyampaikan kepada Miftahul Ulum setiap kali mengeluhkan sulitnya pencairan anggaran untuk KONI.

"Kalau peran Pak Ulum, biasanya kalau saya sendiri, kalau dimintai dari KONI, (ditanyain) kok enggak cair-cair (pengajuan dana), (saya bilang) ke Pak Hamidy, minta tolong ke Pak Ulum saja," kata Supriyono dalam kesaksiannya di persidangan.

Supriyono mengaku dengan bantuan Miftahul Ulum beberapa kali pengajuan dana KONI ke Kempora selalu berhasil. Menurutnya, hal ini lantaran Miftahul Ulum merupakan orang dekat Menpora Imam Nahrawi.

"Karena dekat dengan Pak Menteri," kata Supriyono saat ditanya jaksa alasan meminta bantuan kepada Ulum.

Dalam persidangan ini, Supriyono juga mengaku beberapa kali diperintahkan Miftahul Ulum untuk mencari uang dari pihak eksternal. Uang itu digunakan untuk keperluan menteri, seperti buka puasa bersama dan hal lainnya.

"Kalau buka bersama, yang sifatnya sama menteri pernah minta uang. Ada untuk makan, buka puasa, itu beberapa kali," katanya.

Supriyono mengungkapkan, uang yang diminta besarannya mencapai puluhan juta rupiah. Menurut Supriyono, permintaan untuk memfasilitasi kebutuhan keuangan itu sebenarnya bukan tugas dan kewajibannya sebagai Bendahara Pengeluaran Pembantu. Namun, permintaan itu tak dapat ditolak Supriyono karena perintah atasan.

"Tidak termasuk tugas saya, tapi kalau perintah pimpinan, ya saya laksanakan," katanya.

Diketahui, Jaksa KPK mendakwa Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy dan Bendahara Umum KONI Jhonny E Awuy telah menyuap Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga Mulyana, PPK Kempora Adhi Purnomo dan staf Kempora Eko Triyanto dengan mobil Toyota Fortuner dan uang ratusan juta.

Suap ini diberikan dua petinggi KONI tersebut untuk mempercepat proses persetujuan dan pencairan dana hiba‎h dari pemerintah melalui Kempora kepada KONI.



Sumber: Suara Pembaruan