Pencurian Air Tinggi, PDAM Jambi Rugi Rp 11 Miliar

Pencurian Air Tinggi, PDAM Jambi Rugi Rp 11 Miliar
Ilustrasi ( Foto: Istimewa )
Radesman Saragih / JAS Jumat, 5 April 2019 | 07:58 WIB

Jambi, Beritasatu.com - Kasus-kasus pencurian air minum di Kota Jambi masih tetap tinggi dan hingga kini masih terus terjadi. Pencurian air minum tersebut menjadi salah satu penyebab tingginya kerugian Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mayang Kota Jambi.

“Kasus pencurian air PDAM di Kota Jambi hingga kini masih cukup tinggi, sehingga PDAM Tirta Mayang terus merugi. Kerugian PDAM kota ini juga bertambah akibat persentase kebocoran air PDAM mencapai 40 persen. Total kerugian PDAM Tirta Mayang Kota Jambi saat ini mencapai Rp 11 miliar,” kata Wali Kota Jambi, Syarif Fasha terkait kisruh kenaikan tarif air minum di Kota Jambi, Kamis (4/4/2019).

Menurut Syarif Fasha, besarnya kerugian PDAM Tirta Mayang Kota Jambi membuat perusahaan air minum tersebut terancam gulung tikar. Supaya Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Jambi itu bisa bertahan, tarif air minum terpaksa dinaikkan hingga 100 persen sejak Oktober 2018.

“Kenaikan tarif air minum menjadi satu-satunya solusi yang bisa dilakukan agar PDAM Tirta Mayang Kota Jambi tetap beroperasi memproduksi air bersih untuk warga Kota Jambi,” ujarnya.

Dijelaskan, ketika tarif air minum PDAM Tirta Mayang Kota Jambi masih Rp 2.000/meter kubik (m3), perusahaan air minum itu tidak bisa menutupi biaya operasional yang mencapai Rp 8 miliar per tahun. Setelah tarif air minum di kota itu dinaikkan menjadi Rp 4.000 per m3 sejak Oktober 2018, barulah kekurangan biaya operasional mulai bisa terbantu.

Syarif Fasha mengatakan, dasar kenaikan tarif air minum di Kota Jambi, yaitu Peraturan Wali Kota Jambi Nomor 45 Tahun 2018 yang ditetapkan Agustus 2018. Sebelum peraturan mengenai kenaikan tarif air minum itu dilakukan, sosialisasi sudah dilakukan di 11 kecamatan.

Proses Hukum

Sementara itu warga Kota Jambi tetap memperjuangkan proses hukum untuk membatalkan kenaikan tarif air minum di kota itu. Warga Kota Jambi menuntut agar Wali Kota Jambi membatalkan kenaikan tarif air minum yang mencapai 100 persen tersebut.

Kuasa hukum pelanggan PDAM Tirta Mayang Kota Jambi, M Rusydanul Anam dan Yandrik Ershad mengatakan, pihaknya sudah mendaftarkan permohonan uji materil Peraturan Wali Kota Jambi Nomor 45 Tahun 2018 tentang kenaikan tarif air minum kepada Mahkamah Agung Republik Indonesia.

“Uji materil peraturan mengenai kenaikan air minum tersebut kami ajukan karena Pengadilan Negeri (PN) Jambi tidak bisa menyelesaikan gugatan warga Kota Jambi terkait kenaikan tarif air minum tersebut. Sementara protes dan unjuk rasa warga Kota Jambi menolak kenaikan tarif air minum tersebut masih terus terjadi,” katanya.

M Rusydanul Anam mengatakan, melalui uji materil di Mahkamah Agung, Peraturan Wali Kota Jambi Nomor 45 tahun 2018 tentang kenaikan tarif air minum dapat dibatalkan.

Menurut M Rusydanul Anam, Peraturan Wali Kota Jambi No 45 Tahun 2018 tentang kenaikan air minum PDAM Tirta Mayang Kota Jambi diberlakukan Oktober 2018 masih terus menimbulkan polemik di tengah-tengah masyarakat.

Polemik terjadi, lanjut M Rusydanul Anam, karena kenaikan tarif air minum mencapai Rp 100 persen. Kenaikan tarif air minum tersebut sangat memberatkan pelanggan air minum di kota itu.

“Kemudian kenaikan tarif air minim PDAM di Kota Jambi bertentangan dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 71 Tahun 2016 tentang Perhitungan dan Penetapan Tarif Air Minum,” katanya.



Sumber: Suara Pembaruan