KPK Tegaskan Amplop Serangan Bowo Sidik untuk Pileg

KPK Tegaskan Amplop Serangan Bowo Sidik untuk Pileg
Anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, 28 Maret 2019. ( Foto: ANTARA )
Fana Suparman / CAH Jumat, 5 April 2019 | 08:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah membuka tiga kardus dari 82 kardus dan dua boks kontainer berisi amplop yang disiapkan anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso untuk serangan fajar pada Pemilu 2019. Dari 15.000 amplop dalam tiga kardus yang telah dibuka itu, KPK menemukan dan menyita uang sekitar Rp 300 juta. Saat ini, tim penyidik KPK sedang membuka amplop yang terdapat pada kardus keempat.

KPK menegaskan, berdasarkan fakta hukum diperoleh sejauh ini, amplop-amplop tersebut disiapkan Bowo untuk serangan fajar terkait kepentingan pemilihan legislatif (Pileg).

"Dari fakta hukum yang ada digunakan untuk kepentingan Pileg," kata Jubir KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (4/4/2019).

Diketahui, KPK menyita sekitar Rp 8 miliar saat operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Bowo dan anak buahnya Indung serta petinggi PT Humpuss Transportasi Kimia Asty Winasti beberapa waktu lalu. Uang dalam pecahan Rp 20.000 dan Rp 50.000 itu dimasukkan dalam 400.000 amplop dengan 82 kardus dan dua boks kontainer. Uang tersebut merupakan suap dan gratifikasi yang diterima dan dikumpulkan Bowo dari PT Humpuss Transportasi Kimia dan sejumlah perusahaan lain.

Febri menyatakan sejauh ini tim penyidik belum menemukan kaitan amplop tersebut dengan Pilpres. Ditegaskan, serangan fajar tersebut terkait dengan kepentingan Bowo sebagai calon legislatif (caleg) petahana Partai Golkar dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah II sekaligus Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Jawa Tengah I kepengurusan DPP Golkar.

"Amplop-amplop yang berisi uang tersebut dari fakta hukum yang kami dapatkan sampai dengan saat ini diduga amplop itu akan dibagikan untuk kepentingan pileg karena BSP mencalonkan diri di dapil Jateng II," kata Febri.

Pada Kamis (4/4), tim penyidik memeriksa Bowo sebagai tersangka. Kepada Bowo, penyidik mendalami lebih lanjut apa yang dia ketahui dan peranannya dalam proses kerja sama pengangkutan pupuk antara PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) dan PT Humpuss Transportasi Kimia yang membuatnya menyandang status tersangka. Selain itu, tim penyidik juga mengonfirmasi Bowo mengenai amplop 'serangan fajar' yang disiapkannya, termasuk cap jempol yang ada di amplop tersebut. Berdasarkan pengakuan Bowo, amplop tersebut disiapkan untuk serangan fajar Pileg.

"Tentu dari berbagai bukti yang didapatkan. Termasuk juga keterangan yang bersangkutan juga didalami lebih lanjut dan dari fakta hukum yang ada digunakan untuk kepentingan Pileg," jelas Febri.

Febri memastikan tim penyidik bakal membuka seluruh amplop serangan fajar Bowo. Hal tersebut dilakukan untuk proses pembuktian dalam perkara ini.

"Nanti kita lihat lebih lanjut perkembangganya. Karena pada prinsipnya yang dilakukan KPK adalah tindakan-tindalam yang dibutuhkan untuk proses pembuktian," katanya.

Usai diperiksa tim penyidik, Bowo enggan berkomentar banyak mengenai kasus yang menjeratnya, termasuk mengenai ratusan ribu amplop 'serangan fajar'. Bowo meminta awak media mengonfirmasi mengenai hal tersebut kepada KPK.

"Semua sudah dijelaskan ke penyidik," katanya.

Diberitakan, KPK menetapkan anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso dan anak buahnya, staf PT Inersia bernama Indung sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait distribusi pupuk. Selain Bowo dan Indung, KPK juga menjerat Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti sebagai tersangka. Para pihak tersebut ditetapkan sebagai tersangka setelah diperiksa intensif usai ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu (27/3) hingga Kamis (28/3) dinihari.

Kasus ini bermula saat PT Humpuss Transportasi Kimia berupaya kembali menjalin kerja sama dengan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) untuk mendistribusikan pupuk PT Pupuk Indonesia menggunakan kapal-kapal PT Humpuss Transportasi Kimia. Untuk merealisasikan hal tersebut, PT Humpuss meminta bantuan Bowo Sidik Pangarso.

Pada tanggal 26 Februari 2019 dilakukan MoU antara PT Pilog dengan PT Humpuss Transportasi Kimia. Salah satu materi MoU tersebut adalah pengangkutan kapal milik PT Humpuss Transportasi Kimia yang digunakan oleh PT Pupuk Indonesia.

Dengan bantuannya tersebut, Bowo meminta komitmen fee kepada PT Humpuss Transportasi Kimia atas biaya angkut yang diterima sejumlah US$ 2 per metric ton. Untuk merealisasikan komitmen fee ini, Asty memberikan uang sebesar Rp 89,4 juta kepada Bowo melalui Indung di kantor PT Humpuss Transportasi Kimia di Gedung Granadi, Jakarta, Rabu (27/3). Setelah proses transaksi, tim KPK membekuk keduanya.

Suap ini bukan yang pertama diterima Bowo dari pihak PT Humpuss Transportasi Kimia. Sebelumnya, Bowo sudah menerima sekitar Rp 221 juta dan US$ 85.130 dalam enam kali pemberian di berbagai tempat, seperti rumah sakit, hotel dan kantor PT Humpuss Transportasi Kimia.

Selain dari Humpuss, KPK menduga Bowo juga menerima suap atau gratifikasi dari sejumlah perusahaan lain. Saat OTT kemarin, tim Satgas KPK menyita uang sekitar Rp 8 miliar. Uang dalam pecahan Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu itu dimasukkan dalam 400 ribu amplop dengan 82 kardus dan dua boks kontainer. 

 



Sumber: Suara Pembaruan