Aktivitas PLTA Batangtoru Aman Bagi Orangutan dan Satwa Liar

Aktivitas PLTA Batangtoru Aman Bagi Orangutan dan Satwa Liar
Bendungan. ( Foto: Antara )
Feriawan Hidayat / FER Jumat, 5 April 2019 | 16:15 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Hasil pemantauan terbaru tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memastikan, keberadaan orangutan aman dari aktivitas pembangunan pembangkit listrik energi bersih PLTA Batangtoru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara (Sumut). Temuan ini membantah kampanye yang selalu dilancarkan sejumlah LSM bahwa pembangunan PLTA tersebut mengancam kehidupan orangutan dan satwa liar lainnya di Batangtoru.

Baca juga: PLTA Batangtoru Kaji Kegempaan dengan Sangat Detail

Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, Wiratno mengungkapkan, sampai saat ini tidak ada orangutan yang terluka apalagi sampai mati akibat pembangunan PLTA Batangtoru.

"Sampai sekarang belum ada laporan satu ekor orangutan pun yang terbunuh dengan adanya proyek PLTA Batangtoru. Ini patut kita syukuri,” kata Wiratno, dalam acara diskusi di Jakarta, Kamis (4/4/2019).

Wiratno menjelaskan, KLHK memang sudah menurunkan tim pemantau yang terdiri dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara dan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli, Sumatera Utara, sejak Oktober 2018 lalu.

Wiratno menyatakan, tim bekerja independen secara berkesenimbangunan (continous monitoring) dengan pembiayaan sepenuhnya bersumber dari APBN. Untuk menjamin independensi, tim mengurangi interaksi dengan pihak yang pro dan kontra dengan aktivitas pembangunan PLTA Batangtoru.

Wiratno menilai, temuan tersebut sangat menarik. Diapun mengingatkan kepada calon investor apapun bentuk investasinya untuk selalu menerapkan prinsip kehati-hatian dalam proses pembangunan. "Tujuannya agar kelestarian satwa liar bisa terjaga. Bukan hanya orangutan, tapi juga harimau dan satwa liar lain," kata Wiratno.

Baca Juga: Langkah Mitigasi Dampak PLTA Dinilai Sudah Tepat

Wiratno melanjutkan, pembangunan PLTA Batangtoru bisa menjadi pembelajaran menarik di masa yang akan datang bagaimana pembangunan bisa berjalan beriringan dengan upaya pelestarian satwa liar. Wiratno secara khusus juga mengingatkan tentang pentingnya keterbukaan dalam proses pembangunan serta pentingnya menjalin komunikasi dengan para pihak yang terkait.

PLTA Batangtoru dirancang memiliki kapasitas 510 MW. Bertipe peaker, PLTA Batangtoru akan menjadi andalan saat jaringan listrik Sumatera menghadapi beban puncak. Meski memiliki kapasitas besar, namun tak ada bendungan besar yang dibangun. Melainkan hanya kolam harian yang luasnya sekitar 90-an hektar. Bandingkan dengan kebutuhan lahan di PLTA Jatiluhur yang menghasilkan tenaga listrik 150 MW namun membutuhkan bendungan seluas 8.000 hektar.

Sekretaris Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Munir Ahmad, menegaskan, pentingnya pembangunan PLTA Batangtoru. "Saat ini pasokan listrik di Sumatera kritis. Kalau ada salah satu pembangkit mati, maka sebagian Sumatera akan padam," kata Munir Ahmad.

Baca Juga: KLHK Tegaskan PLTA Batangtoru Tidak Ganggu Orangutan

Untuk memenuhi kebutuhan listrik di sumatera itu, lanjut Munir, pemerintah mendorong dikembangkannya pembangkit listrik yang memanfaatkan energi terbarukan seperti PLTA Batangtoru. Ini sesuai dengan rencana umum penyediaan tenaga listrik (RUPTL) 2018-2027, kontribusi EBT dalam bauran energi pembangkitan tenaga listrik ditarget naik mencapai 23 persen pada tahun 2025.

Munir menjelaskan, beroperasinya PLTA Batangtoru bisa menggantikan pembangkit listrik berbahan bakar minyak yang saat ini dimanfaatkan. Ini akan berdampak pada penghematan biaya operasional yang besarnya bisa mencapai US$ 300 juta (atau sekitar Rp 4,5 triliun) per tahun.

"Kalau dibandingkan, biaya operasional dari PLTA Batangtoru hanya sekitar Rp 1.600 per KWH. Bandingkan jika menggunakan bahan bakar minyak, bisa mencapai Rp 3.000 per KWH,” jelas Munir.

Munir melanjutkan, biaya operasional yang hemat, berarti juga pemerintah bisa menyediakan listrik dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat.

"Kita kembangkan energi baru terbarukan untuk mendapatkan listrik murah dan secara lingkungan juga bisa membantu mencegah perubahan iklim," tandas Munir.



Sumber: BeritaSatu.com