KPK Sita Puluhan Miliar dari 75 Pejabat Kempupera

KPK Sita Puluhan Miliar dari 75 Pejabat Kempupera
Febri Diansyah. ( Foto: Antara )
Fana Suparman / CAH Sabtu, 6 April 2019 | 09:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com -Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita puluhan miliar rupiah dalam bentuk Rupiah dan 13 mata uang asing dari para pejabat Kementeriaan Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera). Diduga, uang tersebut merupakan suap yang diterima oleh sekitar 75 pejabat Kempupera.

"Uang yang disita tersebut diduga diterima oleh para Pejabat di Kempupera dalam rupiah dan berbagai bentuk mata uang asing," kata Jubir KPK, Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (5/4/2019).

Uang tersebut disita selama proses penyidikan kasus dugaan suap pelaksanaan proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM‎) milik Kempupera. Febri menjelaskan dari 75 orang yang uangnya disita tersebut, 69 diantaranya mengembalikan secara langsung.

‎"KPK menduga pembagian uang pada pejabat Kempupera terjadi masal pada pilihan pejabat di sana terkait proyek Sistem Penyediaan Air Minum," jelas Febri.

Diketahui, KPK sedang mengembangkan perkara dugaan suap terkait proyek air minum di Kempupera. KPK menduga terdapat puluhan proyek air minum di Kempupera yang menjadi bancakan para pejabat di Kempupera untuk menerima suap dari pihak swasta, termasuk dari petinggi PT Wijaya Kusuma Emindo (WKE) dan PT Tashida Sejahtera Perkasa (TSP).

Diketahui, KPK menetapkan empat pejabat Kempupera dan empat pihak swasta sebagai tersangka kasus ini. Empat pejabat Kempupera, yakni Anggiar Partunggul Nahot Simaremare selaku Kepala Satuan Kerja (Kasatker) SPAM Strategis sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) SPAM Lampung; Meira Woro Kustinah selaku PPK SPAM Katulampa; Teuku Moch Nazar selaku Kasatker SPAM Darurat; dan Donny Sofyan Arifin selaku PPK SPAM Toba I diduga telah menerima suap dari Budi Suharto selaku Dirut PT Wijaya Kusuma Emindo (WKE); Lily Sundarsih selaku Direktur PT WKE; Irene Irma, Direktur PT Tashida Sejahtera Perkasa (TSP) dan Yuliana Enganita Dibyo, Direktur PT TSP. Suap tersebut diberikan agar keempat pejabat Kempupera itu mengatur lelang proyek pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum tahun anggaran 2017-2018 di sejumlah daerah agar dimenangkan oleh PT WKE atau PT TSP yang sebenarnya dimiliki oleh orang yang sama.

Proyek-proyek tersebut berada di Umbulan 3-Pasuruan, Lampung, Toba 1 dan Katulampa. Tak hanya itu, pejabat Kempupera ini juga menerima suap untuk mengatur lelang terkait pengadaan pipa HDPE di Bekasi dan di daerah bencana di Donggala, Palu, Sulawesi Tengah.

Dalam pengembangan penyidikan kasus ini, KPK mengidentifikasi sekitar 55 proyek air minum Kempupera yang terindikasi diwarnai praktik suap. Sebagian besar proyek tersebut dimenangkan oleh PT WKE dan PT TSP. Petinggi dua perusahaan tersebut menyuap pejabat Kempupera untuk menggarap proyek-proyek tersebut.


Berikut rincian uang yang diduga diterima 75 pejabat Kempupera terkait proyek SPAM yang telah disita tim penyidik KPK.
1. Rp 33.466.729.500 (Rupiah, mata uang Indonesia);
2. USD481.600 (Dollar Amerika, mata uang Amerika Serikat)‎ atau sekitar Rp 6.860.142.300 (dengan kurs saat ini);
3. SGD305.312 (Dollar Singapura, mata uang Singapura) atau sekitar Rp 3.211.025.450;
4. AUSD20.500 (Dollar Australia, mata uang Australia)‎ atau sekitar Rp208.058.500;
5. HKD147.240 (Dollar Hongkong, mata uang Hongkong)‎ atau sekitar Rp 267.252.075;
6. EUR30.825 (Euro, mata uang Eropa)‎ atau sekitar Rp 493.225.225;
7. GBP4000 (Poundsterling, mata uang Inggris)‎ atau sekitar Rp 74.421.750
8. RM345.712 (Ringgit, mata uang Malaysia) atau sekitar Rp 1.206.388.125
9. CNY 85.100 (Yuan, mata uang China) atau sekitar Rp 180.330.300
10. KRW 6.775.000 (South Korean Won‎, mata uang Korea Selatan) atau sekitar Rp 84.990.175
11. THB158.470 (Baht, mata uang Thailand) atau sekitar Rp 70.797.925
12. YJP901.000 (Yen, mata uang Jepang) atau sekitar Rp 114.827.500
13. VND38.000.000 (Dong, mata uang Vietnam) atau sekitar Rp 23.387.175
14. ILS1.800 (New Israel Shekel, mata uang Israel) atau sekitar Rp 7.148.060



Sumber: Suara Pembaruan