BKSDA Bengkulu Ungkap Belasan Kasus Perdagangan Satwa Dilindungi

BKSDA Bengkulu Ungkap Belasan Kasus Perdagangan Satwa Dilindungi
Harimau sumatera. ( Foto: Antara )
Usmin / FMB Sabtu, 6 April 2019 | 10:14 WIB

Bengkulu, Beritasatu.com - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, mengungkapkan pihaknya dalam beberapa tahun ini telah berhasil mengungkap belasan kasus kejahatan perdagangan satwa dilindungi daerah ini.

"Ada sekitar 18 kasus pedagangan satwa dilindungi kita ungkap di Bengkulu dengan 21 orang tersangka. Mereka kita proses sesuai dengan hukum yang berlaku," kata Kabid Tata Usaha BKSDA Bengkulu, Suharno, di Bengkulu, Jumat (5/4/2019).

Ia mengatakan, dari kasus kejahatan terhadap satwa liar yang berhasil diungkap BKSDA Bengkulu tersebut, di antaranya perdagangan kulit harimau sumatera, beruang madu dan beberapa jenis satwa dilindungi lainnya.

Dengan diungkapnya kasus perdagangan kulit harimau tersebut, diindikasikan kegiatan perburuan satwa liar, khususnya harimau sumatera di wilayah hutan Provinsi Bengkulu oleh oknum masyarakat tidak bertanggung jawab hingga kini masih terus terjadi.

Dugaan tersebut, katanya diperkuat dengan masih seringnya ditemukan jerat harimau sumatera di kawasan hutan lindung dan hutan Tanaman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) yang ada di daerah ini.

"Anggota Polhut BKSDA Bengkulu, sering sekali menemukan jerat harimau sumatera yang dipasang warga di daerah perlintasan raja hutan tersebut di kawasan hutan lindung dan TNKS yang ada di daerah ini, salah satunya di hutan lindung Semidang Bukit Kabuh, Kabupaten Seluma," ujarnya.

Di kawasan hutan lindung Semidang Bukit Kabuh ini, katanya, sering sekali harimau sumatera dan beruang muda muncul di sekitar perkampungan penduduk di daerah tersebut. Bahkan, raja hutan tersebut sempat memangsa hewan ternak masyarakat setempat.

Hal ini terjadi karena hutan di Seluma yang menjadi habitat satwa liar tersebut, terus berkurang akibat dirambah masyarakat untuk dijadikan ladang perkebunan tanaman keras, seperti kopi dan sebagainya. Dengan sering munculnya raja hutan di sekitar permukiman warga tersebut, disinyalir warga memasang jerat untuk menangkap satwa dilindungi yang menganggu aktivitas masyarakat tersebut.

"Kita mengimbau masyarakat tidak melakukan perburuan terhadap satwa liar yang ada di hutan Bengkulu, termasuk harimau sumatera. Sebab, jika warga tertangkap melakukan perburuan satwa lair, termasuk harimau, akan dikenakan sanksi hukum berat," ujarnya.

BKSDA Bengkulu tidak akan memberikan toleransi terhadap warga yang kedapatan menangkap dan memiliki satwa dilindungi tanpa izin resmi dari pemerintah. "Jika terbukti warga menangkap dan memelihara satwa dilindungi tanpa izin alias ilegal kita proses dan dijatuhi hukuman berat," ujarnya.

Sikap tegas ini dilakukan untuk memberikan efek jera kepada masyarakat agar tidak lagi melakukan perburuan terhadap satwa liar yang ada di hutan Bengkulu, seperti harimau sumatera, gajah sumatera, badak dan satwa dilindungi jenis lainnya yang ada di daerah ini. Dengan demikian, keberadaan satwa langka di Bengkulu, ke depan akan terhindar dari ancaman kepunahan akibat diburu masyarakat tidak berrtanggung jawab.



Sumber: Suara Pembaruan