KPK Bakal Hadirkan Menpora di Sidang Perkara Suap Dana Hibah KONI

KPK Bakal Hadirkan Menpora di Sidang Perkara Suap Dana Hibah KONI
Febri Diansyah. ( Foto: Antara )
Fana Suparman / CAH Sabtu, 6 April 2019 | 10:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan bakal menghadirkan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi sebagai saksi dalam persidangan perkara dugaan suap dana hibah dari pemerintah kepada KONI melalui Kempora. Imam Nahrawi pernah diperiksa sebagai saksi dalam penyidikan kasus ini pada akhir Januari lalu.

"Dalam proses penyidikan sudah kami panggil (periksa), itu artinya jika dipandang relevan, apalagi kalau JPU sudah menyampaikan, ya tentu akan dihadirkan di persidangan," kata Jubir KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (5/4/2019).

Meski demikian, Febri mengaku belum mengetahui secara pasti kapan Imam akan dihadirkan sebagai saksi di persidangan. Dikatakan Febri, hal tersebut sepenuhnya merupakan kewenangan Jaksa.

"Kapan persisnya jadwalnya, tentu saja itu menjadi domain dari penuntut umum. Nanti kalau sudah ada informasi yang akan disampaikan," kata Febri Diansyah.

Nama Imam Nahrawi mencuat dalam sidang perkara dugaan suap pengurusan dana hibah dari pemerintah kepada KONI melalui Kempora dengan terdakwa Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (21/3). Dalam sidang yang menghadirkan Sekretaris Bidang Perencanaan dan Anggaran KONI Suradi itu, nama Imam Nahrawi dengan menggunakan inisial M masuk dalam daftar pejabat Kempora yang mendapat jatah fee dari KONI. Daftar itu disusun Suradi atas perintah Ending. Dalam catatan itu, terdapat 23 inisial nama dan nominal uang yang akan diberikan, termasuk inisial M yang tertulis mendapat jatah Rp 1,5 miliar.

Tak hanya itu, dalam persidangan pada Kamis (4/4), mantan Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP) Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kempora) Supriyono mengungkap peran Miftahul Ulum, asisten pribadi (Aspri) Imam Nahrawi dalam proses pemulusan bantuan hibah dari Kempora kepada KONI. Supriyono mengaku kerap menyarankan Ending untuk menyampaikan kepada Miftahul Ulum setiap kali mengeluhkan sulitnya pencairan anggaran untuk KONI. Supriyono menyebut dengan bantuan Miftahul Ulum proses pencairan anggaran KONI menjadi lebih cepat.

Hal ini karena kedekatan Ulum dengan Imam Nahrawi. Supriyono juga mengaku beberapa kali diperintahkan Miftahul Ulum untuk mencari uang dari pihak eksternal. Uang itu digunakan untuk keperluan menteri, seperti buka puasa bersama dan hal lainnya. Tak hanya itu, dalam persidangan tersebut, Supriyono juga mengakui adanya aliran dana sebesar Rp 6,3 miliar dari KONI ke kementerian yang dipimpin Imam Nahrawi. Supriyono mengakui pernah menerima uang Rp 250 juta, Rp 50 juta, dan Rp 6,3 miliar diluar uang Rp 1 miliar yang diklaimnya dipinjam dari KONI. Uang Rp 6,3 miliar tersebut untuk menutupi kegiatan olahraga tahun 2017.

Dikonfirmasi mengenai hal ini, Febri mengatakan, pihaknya akan mencermati setiap perkembangan dan fakta yang mencuat di persidangan. Dikatakan, keterangan satu saksi akan diverifikasi dan diperiksa kesesuaiannya dengan keterangan saksi atau bukti-bukti lainnya.

"Itu gunanya proses persidangan itu dilakukan secara terbuka dan berimbang jadi ada pihak Jaksa KPK di sana ada pihak penasihat hukum atau kuasa hukum terdakwa dan ada Hakim yang akan menilai proses-proses persidangan ini nanti akan berujung pada penuntutan dan di penuntutan KPK akan menguraikan analisis dan kesimpulan KPK termasuk fakta-fakta yang muncul di persidangan tadi dan hakim akan menilai mana yang terbukti mana yang tidak," tambah Febri Diansyah.



Sumber: Suara Pembaruan