Motif Kasus Mutilasi Kediri Diduga Percintaan Terlarang

Motif Kasus Mutilasi Kediri Diduga Percintaan Terlarang
Kapolresta Blitar AKBP Adewira Negara Siregar dan tim melakukan pencarian anggota tubuh Budi Hartanto, seorang guru di Kota Kediri yang menjadi korban mutilasi di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Jumat 5 April 2019. ( Foto: Antara / Asmaul Chusna )
Aries Sudiono / FMB Senin, 8 April 2019 | 09:37 WIB

Kediri, Beritasatu.com - Penyelidik Subdit-III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim hampir memastikan pelaku pembunuhan dan mutilasi terhadap Budi Hartanto (28), guru honorer SDN Banjarmelati 2, Kota Kediri, lebih dari satu orang. Diduga keras selain pelaku utama, ada pelaku lain yang berperan membantu proses eksekusi korban. Lebih dari itu, berdasarkan keterangan 14 orang saksi yang sudah didengar keterangannya, Polisi menduga korban mutilasi guru honorer itu suka sama suka dengan sesama jenis.

“Ini yang sedang kita dalami, karena pembunuhan itu terjadi diprediksi kuat tidak jauh dari itu (menyukai sesama jenis),” ujar Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera yang dikonfirmasi, Senin (8/4/2019) tadi pagi. Menurut dia, dari hasil pemeriksaan 14 saksi oleh penyidik kepolisian, ada masalah-masalah intim dari korban dengan pelakunya. Di antaranya orang-orang terdekat yang memiliki hubungan spesial dengan korban.

“Jadi pelaku tidak hanya satu orang. Ada yang membantu pelaku utama,” ujar Frans Barung Mangera lagi.

Ia membenarkan, sekarang ini, anggota Jatanras sedang memburu dua orang teman dekat korban mutilasi, yang juga tenaga honorer di sebuah sekolah SD di Kota Blitar. Fakta ini didapat setelah petugas melacak perkacapan terakhir korban Budi Hartanto di ponselnya. Polisi juga telah mendapati digital forensik dari ponsel korban lewat kerja sama dengan penyedia jasa layanan komunikasi. Dari sana terungkap juga bukti-bukti percakapan terakhir korban.

Tim IT kepolisian melihat ponsel korban masih aktif di suatu tempat, pukul 04.00 WIB dini hari di Kota Kediri. Dari hasil penelusuran petugas, kalaupun pelaku utamanya tunggal, namun hampir dipasikan tetap ada satu atau dua orang yang diduga ikut membantunya. Seperti membuang koper berisi mayat korban mutilasi di tepi sungai. “Tim masih mengobok-obok di Kota dan Kabupaten Kediri serta Kota dan Kabupaten Blitar,” tandas Frans Barung Mangera sambil menambahkan, bahwa hingga kini petugas masih mengejar teman-teman dekat korban. Karena diduga ponsel korban masih dikuasai salah satu pelaku.

Identitasnya mereka masih dirahasikan polisi karena yang bersangkutan bisa kabur. Pada bagian lain Kabid Humas Polda Jatim mengungkapkan bahwa pengambilaihan penanganan kasus mutilasi di perbatasan Kediri-Blitar itu dilakukan Subdit-III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim karena TKP pembunuhan berada di wilayah perbatasan Blitar dan Kediri. Ada kemungkinan pembunuhan terjadi di Blitar atau bisa juga di Kediri, sehingga Polda harus langsung mengambil alih agar koordinasi lebih cepat.

Saksi Kunci
Sementara itu tim penyelidik Polda Jatim kini sedang memeriksa seorang aparatur sipil negara (ASN) yang berdinas di Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Kediri yang selama ini diduga menjadi teman istimewa korban. Tim menurut Frans Barung Mangera memang belum menemukan keterkaitan pria yang berprofesi sebagai ASN itu dengan peristiwa pembunuhan. Namun yang bersangkutan bisa menjadi saksi kunci dalam kasus pembunuhan sadis tersebut.

Sementara ini status oknum ASN itu masih saksi.

Ada alibi, saksi oknum ASN tersebut tidak berada di dekat korban pada waktu itu, walaupun sebelumnya mereka pernah berhubungan dengan korban. Namun, tidak menutup kemungkinan status ini akan berubah ketika bukti-bukti berhasil ditemukan serta kesaksian diperoleh, tandas Frans Barung. Pada bagian lain tim forensik juga tengah mendalami perilaku korban yang memiliki kecenderungan suka dengan sesama jenis. Hal ini diketahui setelah polisi memeriksa sejumlah teman dekat korban. Sementara itu, terkait pencarian potongan kepala korban yang hingga kini belum ditemukan, kembali dilanjutkan dengan melibatkan petugas Bhabinkamtibmas Polsek jajaran. 



Sumber: Suara Pembaruan