BMKG Perkuat Prediksi Banjir Rob

BMKG Perkuat Prediksi Banjir Rob
Dwikorita Karnawati. ( Foto: Antara )
Ari Supriyanti Rikin / FER Senin, 8 April 2019 | 14:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ancaman banjir pesisir atau rob kota-kota besar yang berada di sekitar pantai dan laut sangat tinggi. Terlebih ketika terjadi penurunan muka tanah (subsidensi tanah) di wilayah tersebut. Saat ini Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) berhasil mengembangkan prediksi banjir pesisir atau rob yang lebih akurat dengan mengkombinasikan kondisi meteorologi maritim dan laut.

Baca Juga: BMKG Gunakan Sensor Gempa dan Kecerdasan Buatan

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan, prakiraan ini untuk melindungi masyarakat dari genangan air banjir yang tidak hanya diakibatkan oleh pasang surut tapi juga gelombang tinggi.

"Para pakar terus berpikir bagaimana melakukan prediksi secara lebih akurat, tepat dan teknologi kita yang meningkat," katanya di sela-sela pertemuan The 10th Observation Coordinating Group Regional Workshop di Jakarta, Senin (8/4).

Kegiatan ini merupakan kerja sama antara BMKG dengan IOC World Meteorology Organization (IOC WMO) yang dihadiri para pakar, peneliti di bidang oseanografi dan meteorologi maritim.

Dwikorita menambahkan, dari kerja sama tersebut, selama tiga tahun terakhir, BMKG bersama the IOC-WMO Joint Technical Commission for Oceanography and Marine Metereology dan juga didukung sejumlah instansi di dalam negeri seperti Kempupera, BIG, LAPAN, serta Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) berhasil mengembangkan prediksi rob. "Sistem ini untuk meramalkan genangan air yang ada di daerah pantai," ucap Dwikorita.

Selain untuk mitigasi dan perlindungan terhadap bencana, lanjut Dwikorita, sistem pengamatan ini juga bertujuan untuk perencanaan pembangunan. "Jauh hari sebelum bencana terjadi, kita sudah harus merancang bagaimana membangun dengan tata ruang yang tepat," tandas Dwikorita.

Penguatan observasi ini bersifat multisektor yakni mendukung peningkatan kesejahteraan penduduk sekitar pantai, perikanan, pemanfaatan sumber daya laut berkelanjutan, transportasi dan perhubungan.

Baca Juga: Sebagian Wilayah Jatim Masuki Masa Peralihan Musim

Senada dengan itu, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono Rahadi Prabowo, mengungkapkan, melalui prediksi ini BMKG memperkuat jaringan observasi di laut melalui observasi meteorologi maritim dan oseanografi. Sistem prediksi ini, sudah dioperasikan di Jakarta dan Semarang. Tujuannya untuk mengurangi genangan rob.

"Rob ini bisa terjadi karena hujan di hulu. Tapi kadang di hulu tidak hujan tetapi ada banjir rob karena aktivitas cuaca di laut dan munculnya siklon," papar Mulyono.

Mulyono menambahkan, sistem ini akan diintegrasikan dengan kondisi bulan purnama dimana pasang air laut terjadi dan ada kenaikan massa air laut yang signifikan. "Lima hari ke depan kita bisa melihat kondisi di laut dan memprediksikannya," ucap Mulyono.

Mulyono menambahkan, kondisi subsidensi tanah bisa saja memperparah daerah terdampak rob. Bisa saja ketinggian pasang laut tetap, tetapi karena penurunan permukaan tanah terjadi, maka terlihat pasang air laut itu naik. Daerah kota besar seperti Jakarta, Semarang, Medan dan Surabaya perlu mewaspadai ancaman banjir pesisir ini.



Sumber: Suara Pembaruan