Esai Gunung Rinjani Antar Edgar ke Harvard

Esai Gunung Rinjani Antar Edgar ke Harvard
Alfian Edgar Tjandra (18) siswa SMA Kharisma Bangsa yang diterima Harvard University ( Foto: istimewa / istimewa )
Maria Fatima Bona / IDS Senin, 8 April 2019 | 11:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dapat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi (PT) terbaik di dunia tentu menjadi impian bagi semua siswa. Namun bagi Alfian Edgar Tjandra (18) atau Edgar, masuk PT terbaik dunia bukanlah impian semata. Siswa kelas XII SMA Kharisma Bangsa ini berhasil diterima di Harvard University yang menduduki peringkat satu universitas dunia.

Bahkan, ia tak hanya diterima di Harvard saja. Nama Edgar juga masuk dalam daftar mahasiswa yang diterima di dua universitas bergengsi lainnya, yakni Carnegie Mellon University AS (peringkat ke-46 dunia) dan University of Waterloo Kanada (peringkat ke-163 dunia).

Dari tiga pilihan tersebut, Edgar akhirnya memutuskan melanjutkan ke Harvard University pada tahun ajaran 2019/2020 untuk program studi ilmu matematika dalam bidang komputer sains.

Menurutnya, untuk bisa diterima di tiga unversitas terbaik dunia tentu tidak mudah. Ia mengaku harus melewati berbagai ujian seperti tes SAT (Scholastic Aptitude Test), TOEFL, dan menulis esai.

Pasalnya, dalam menerima mahasiswa baru, kampus-kampus di AS dan Kanada tidak hanya melihat kemampuan akademik calon mahasiswanya. Mereka juga memiliki berbagai pertimbangan. Selain kemampuan akademik yang dinilai melalui hasil tes SAT dan TOEFL, mereka juga menilai calon mahasiswa melalui tulisan esai. Para calon mahasiswa baru wajib menyertakan tiga jenis tulisan esai orisinal yang menjelaskan tentang latar belakang siswa, kegiatan sosial siswa, dan memecahkan masalah dalam kehidupan.

Edgar menyebutkan, untuk esai latar belakang, ia menulis tentang apa yang pernah dicapainya selama ini. Sedangkan untuk kegiatan sosial, ia menulis tentang kegiatan sosialnya, di mana ia memanfaatkan waktunya luangnya untuk menularkan ilmunya kepada adik kelas yang membutuhkan pendalaman, khususnya di bidang Matematika.

“Dalam portofolio itu, saya menulis aktivitas saya membantu penyelenggaraan OSN (Olimpiade Sains Nasional, red) ke seluruh Indonesia,” kata Edgar kepada media di SMA Kharisma Bangsa,Tangerang, Banten, Sabtu (6/4).

Selanjutnya, untuk esai tentang memecahkan masalah, Edgar menulis tentang pengalamannya ketika gagal mendaki puncak gunung Rinjani pada 2015. Kegagalan itu tidak membuatnya putus asa. Sebab, dari kegagalan tersebut ia justru mengetahui apa yang menjadi kekurangannya sehingga mampu mempersiapkan dirinya untuk lebih matang. Terbukti, Edgar pun berhasil ketika kembali mengulangi pendakiannya pada 2016.

“Pengalaman kegagalan mendaki gunung pada 2015 ini saya hubungkan dengan kehidupan sehari-hari, yakni harus ada persiapan dan strategi untuk menjadi lebih baik. Saya rasa esai tentang mendaki Rinjani ini menjadi salah satu pertimbangan bisa diterima karena Harvard University selain melihat hasil tes akademik, faktor lain juga sangat penting,” ujarnya.

Dijelaskan dia, esai tersebut sangat membantu karena sejalan dengan sistem pendidikan di AS dan Kanada yang lebih mengutamakan logika serta pemecahan masalah. Kesimpulan ini ia temukan dalam soal matematika yang ia kerjakan dalam tes. Meskipun hanya empat nomor, tetapi semua mengedepankan logika dalam penyelesaian.

“Soal yang diberikan kadang tidak perlu pakai angka, tapi logika. Seperti puzzle yang disusun kemudian dijatuhkan, kita harus tahu berapa langkahnya,” katanya.

Siswa kelahiran Jakarta, 3 April 2001 ini juga menuturkan, hal ini berbeda dengan sistem di Indonesia yang mengedepankan materi kepada peserta didik, sehingga mengabaikan cara berpikir kritis. Waktu lebih banyak dihabiskan untuk menghafal rumus-rumus daripada memecahkan masalah.



Sumber: Suara Pembaruan