Lusa, BPPT Pasang Buoy Tsunami di Selat Sunda

Lusa, BPPT Pasang Buoy Tsunami di Selat Sunda
BMKG: 22 Buoy Tsunami di Indonesia Tidak Beroperasi ( Foto: Youtube.com/BeritaSatu / BSTV )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Senin, 8 April 2019 | 12:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Meski pemasangan buoy pendeteksi tsunami mundur dari jadwal pada akhir Maret lalu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memastikan akan memasang buoy tersebut di perairan Selat Sunda pada 10 April 2019.

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan, pihaknya telah siap untuk memasang atau men-deploy buoy tsunami Merah Putih. Ia pun memohon doa dan dukungan seluruh pihak agar pada 10 April 2019, buoy tsunami untuk kawasan Gunung Anak Krakatau dapat dipasang dengan lancar.

"Kami BPPT mohon doa agar diberi kemudahan dan kelancaran, supaya 10 April besok, buoy dapat dipasang di kawasan Gunung Anak Krakatau," kata Hammam di Jakarta, Minggu (7/4).

Pemasangan buoy Merah Putih akan menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya milik BPPT.

"Pemasangan akan memakan waktu sekitar 2-3 hari layar. Kemudian usai itu Baruna Jaya akan melaksanakan survei landas kontinen," ucapnya.

Lebih lanjut, kata Hammam, BPPT di tahun 2019 ini akan meluncurkan 3 buoy untuk kawasan Gunung Anak Krakatau dan pesisir Barat Bengkulu serta selatan Jawa Barat.

"Buoy Merah Putih atau buoy generasi ketiga ini kami harap tahan vandalisme. Akan kami pasang di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau dan Selat Sunda," jelasnya.

Selain buoy, Hammam juga menyebut BPPT akan memasang kabel bawah laut atau cable base tsunameter (CBT) untuk melengkapi buoy. Kabel bawah laut ini penting untuk mendeteksi tsunami yang sifatnya dekat atau near field tsunami.
Untuk koordinasi dan pengamanan peralatan teknologi yang akan dipasang, Hammam mengaku akan berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait, mulai dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),TNI dan Polri.

"3 buoy dan kabel bawah laut atau CBT ini akan kami koordinasikan baik pemasangan dan pengamanannya dengan BNPB," ungkap Hammam.

Untuk itupun Hammam mengimbau kepada masyarakat, agar buoy yang sudah terpasang dijaga bersama dan jangan melakukan tindak vandalisme.

"Kepada masyarakat, kami mengajak untuk menjaga bersama buoy Merah Putih jika sudah terpasang nanti, demi keselamatan kita semua," tandasnya.

Hitungan Detik
Buoy pendeteksi tsunami ini akan dipasang antara 100-200 kilometer dari pantai. Nantinya, buoy dapat mengirimkan informasi data terkini ketika ada gelombang tinggi di tengah laut yang diduga berpotensi menjadi tsunami muncul ke pusat data buoy BPPT. Kemudian data itu akan diteruskan ke pihak berwenang.

Hitungan awamnya, jika kecepatan gelombang tsunami berkisar antara 500-700 kilometer per jam, minimal ada waktu 10-15 menit untuk masyarakat melakukan evakuasi ke shelter terdekat.

Sinyal dari buoy di tengah laut itu akan semakin intens hitungan detik, mengirimkan sinyal ke pusat data early warning system secara real time, jika ada gelombang yang melewatinya. Semakin tinggi dan kencang gelombang, maka sinyal yang dikirim frekuensinya akan semakin rapat dan bisa berkali-kali dalam hitungan detik.

“Masyarakat di pesisir atau wilayah berpotensi tsunami harus memiliki waktu evakuasi yang cukup," kata Hammam.
Selain buoy, teknologi lain seperti kabel bawah laut (CBT) maupun permodelan juga diperlukan dalam mendukung sistem peringatan dini bencana. CBT adalah alat yang sifatnya komplementer dengan buoy atau saling melengkapi agar deteksi dini tsunami semakin akurat, presisi dan andal.

CBT sepanjang 3 kilometer akan dipasang di Pulau Sertung hingga ke tengah dekat Gunung Anak Krakatau. Rencananya beberapa tahun ke depan, BPPT juga akan memasang lagi sejumlah buoy di Samudera Hindia.



Sumber: Suara Pembaruan