Dokter Buzzer Hoax KPU Terancam 4 Tahun Pidana

Dokter Buzzer Hoax KPU Terancam 4 Tahun Pidana
Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Polri Brigjen Dedi Prasetyo (tengah) saat memberi keterangan di Mabes Polri, Senin, 7 Januari 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Farouk Arnaz )
Farouk Arnaz / YUD Senin, 8 April 2019 | 17:12 WIB

Jakarta, Beritasatu.com — Satu diantara dua tersangka penyebar informasi hoax terkait server Komisi Pemilihan Umum (KPU) ada di Singapura dan di-setting untuk memenangkan salah satu pasangan capres-cawapres Pilpres 2019 adalah orang terpelajar.

“RD yang ditangkap di Lampung masih dalam pemeriksaan di Polda Lampung. Seorang ibu rumah tangga, tapi pendidikannya cukup tinggi, dokter. Tapi sama dia (hoax) yang diterima itu dianggap hal yang benar. Tambah lagi dia memviralkan lewat akun FB,” kata Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Senin (8/4/2019).

RD tidak menyangka postingannya akan seviral itu hingga dia dan EW, yang ditangkap di Ciracas, ditangkap polisi. Di mana dari hasil pemeriksaan dan jejak digital yang dimiliki, mereka berdua hanya sebagai buzzer.

Mereka dijerat Pasal 45 ayat 3, 45A ayat 2, dan Pasal 14 ayat 1 UU 1/1946. Ancaman hukumannya 4 tahun. Masih ada dua buron yang tengah didalami Dit Siber. Satu DPO yang menyampaikan secara verbal berita hoax itu dan satu DPO lagi ikut membuat narasi termasuk sebagai buzzer.

Yang jelas mereka tidak diperintah dan melakukan aksi karena dirinya sendiri. Ketika mendapat info tentang video yang viral tersebut mereka menambahkan narasi dan kemudian ikut memviralkan. Baik melalui akun yang dimiliki tersangka sendiri atau juga memberikan tautan ke Babe News.

Seperti diberitakan pengungkapan kasus ini bermula dari laporan Komisioner KPU hari Jumat (5/4/2019) kemarin. Setelah melakukan pendalaman fakta dan bukti maka ditangkaplah kedua orang itu.



Sumber: BeritaSatu.com