Bersatu Melawan Kerusakan Lingkungan

Bersatu Melawan Kerusakan Lingkungan
Earth Hour di Jakarta. ( Foto: Antara )
Lenny Tristia Tambun / Bernadus Wijayaka / AB Selasa, 9 April 2019 | 12:54 WIB

Sabtu pekan ketiga tiap Maret, lebih dari 180 negara melakukan gerakan Earth Hour. Caranya sederhana: warga dunia cukup mematikan lampu dan peralatan listrik selama satu jam pada pukul 20.30 sampai 21.30 waktu setempat. Semua itu merupakan bentuk penghormatan untuk bumi. Kampanye Earth Hour juga membangun dan mewujudkan gaya hidup hemat energi.

Earth Hour merupakan gerakan yang mengajak seluruh penduduk dunia untuk bersama-sama menurunkan emisi karbon dioksida. Senyawa ini diketahui merupakan pemicu pemanasan global dan perubahan iklim. Dua hal itu ditakuti dunia saat ini. Kampanye itu dilakukan serempak Maret, karena cuaca hampir semua negara di berbagai belahan dunia cukup bersahabat. Gerakan ini dimulai dari Sydney, Australia, pada 2007 lalu. Sekarang, sedikitnya 180 negara melakukan hal serupa.

Indonesia mengikuti Earth Hour sejak 2009 yang diinisiasi World Wild Fund (WWF) Indonesia. Kini, Earth Hour digerakkan oleh 3.000 relawan aktif. Mereka tergabung dalam Komunitas Earth Hour yang tersebar di 30 kota. Ada 2 juta individu melalui aktivasi di media sosial yang mendukung gerakan ini. Earth Hour di Indonesia dikenal dunia sebagai gerakan yang memiliki komunitas terbesar.

Dukungan Earth Hour tidak saja dari lembaga bidang lingkungan hidup, tetapi juga Pemerintah Indonesia. Tahun lalu, 2018, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, mengimbau pejabat pemerintahan menyosialisasikan gerakan itu kepada masyarakat.

Menyelamatkan Planet
CEO WWF Indonesia, Rizal Malik mengatakan Earth Hour merupakan gerakan akar rumput terbesar untuk lingkungan. Penduduk dunia bersatu menyelamatkan planet ini.

“Keanekaragaman hayati global menurun pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ditambah pula dengan tantangan perubahan iklim yang selalu ada. Oleh karena itu, Earth Hour 2019 memfokuskan upayanya pada peningkatan kesadaran dan tindakan yang menginspirasi penurunan emisi gas rumah kaca. Itu untuk mengurangi dampak perubahan iklim,” kata Rizal Malik dalam konferensi pers di Stasiun MRT Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Rabu (27/3/2019).

Pada Earth Hour 2019, WWF Indonesia dan Komunitas Earth Hour di 30 kota mengajak berbagai pihak untuk berpartisipasi. Mulai dari Presiden Jokowi, pemimpin kota, pemerintah lokal, pimpinan perusahaan, dan masyarakat khususnya generasi muda, menjadi bagian dari gerakan menghemat energi dengan mematikan listrik selama satu jam.

Earth Hour adalah momen untuk mengembalikan hubungan yang lebih baik antara manusia dengan alam. Selain itu, menempatkan pelestarian lingkungan sebagai prioritas utama dalam agenda nasional dan lokal. Apalagi, Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebanyak 29% pada 2030. Dari 29% itu, 11% di antaranya dari transportasi publik. Untuk itu, publik juga harus ikut serta dengan cara menggunakan transportasi publik.

Berdasarkan data Kementerian Ekonomi Sumber Daya Mineral (ESDM), konsumsi energi di sektor transportasi 2007 sebesar 29% dan meningkat menjadi 47% pada 2017. Tercatat, pada 2016, sektor transportasi menghasilkan emisi sebanyak 1,28 juta ton dengan rata-rata peningkatan 6,7% per tahun. Peningkatan emisi ini lebih besar 1,5 kali lipat dari konsumsi bahan bakarnya.

Angkutan massal di Jakarta pun mendukung Earth Hour tersebut. Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan PT MRT Jakarta, Muhamad Kamaluddin mengatakan, MRT Jakarta berkomitmen mendukung gerakan Earth Hour 2019 guna mengurangi dampak pemanasan global.

“MRT Jakarta aktif mengajak masyarakat Indonesia untuk bersama-sama menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Contohnya dengan beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum. Hal ini tentu saja ikut menghemat energi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca,” kata Kamaluddin.

Dirut PT Transjakarta, Agung Wicaksono mengatakan emisi karbon dioksida dari transportasi berkontribusi sampai 46% terhadap emisi di perkotaan, apalagi kalau menggunakan kendaraan pribadi.

“Transjakarta berjuang untuk memudahkan warga naik transportasi massal dengan mengintegrasikan rute dan haltenya dengan MRT, LRT, dan KRL. Baik rute pengumpan dari kawasan permukiman di selatan ke Lebak Bulus dan Fatmawati, maupun rute lanjutan dari MRT di tengah kota seperti Dukuh Atas dan HI. Ke depan, electric mobility bisa menjadi pilihan untuk menekan lagi emisi melalui uji coba terlebih dahulu,” terang Agung Wicaksono.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI pun mengikutsertakan tujuh ikon Kota Jakarta dalam aksi Earth Hour. Asisten Deputi Gubernur DKI bidang Lingkungan Hidup, Yuli Hartono mengatakan, Pemprov memadamkan listrik di tujuh titik yang menjadi ikon Kota Jakarta. Ketujuh tempat itu adalah Gedung Balai Kota, Patung Sudirman, Monas, Patung Kuda, Patung HI, Patung Pemuda, dan Tugu Tani.

Namun, penghematan energi sebetulnya tidak hanya dilakukan saat Earth Hour saja. Pemprov DKI pun sudah berkomitmen menjaga lingkungan dan hemat energi. Salah satunya dengan mengganti seluruh lampu penerangan jalan umum dengan lampu LED.



Sumber: BeritaSatu.com, Suara Pembaruan