BMKG: Masa Transisi, Waspadai Hujan Lokal

BMKG: Masa Transisi, Waspadai Hujan Lokal
Hujan lebat seharian yang terjadi pada Minggu, 17 Maret 2019, menyebabkan genagan dan banjir di sejumlah titik di DI Yogyakarta. Kondisi terparah berada di Bantul Tidak ada korban jiwa, namuan BMKG memperdiksi kondisi serupa akan terjadi beberapa hari ke depan. ( Foto: Fuska Sani Evani )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Selasa, 9 April 2019 | 11:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Meskipun Indonesia sudah memasuki periode transisi dari musim hujan ke musim panas, potensi hujan lebat bersifat spot atau lokal masih perlu diwaspadai.

Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Mulyono Rahadi Prabowo mengatakan, cuaca dengan sifat hujan di spot tertentu masih banyak terjadi di periode transisi ini. Padahal, di sebagian wilayah zona musim, ada yang sudah masuk musim kemarau.

Untuk wilayah selatan pun ada siklon Wallace yang menyebabkan wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) seperti wilayah Pulau Sabu dan Kupang terjadi hujan dan angin kencang.

"Di wilayah Jawa dan Jakarta Bogor Depok Tangerang dan Bekasi, hujannya bersifat lokal. Beberapa hari lalu terjadi hujan lebat tapi hanya di wilayah selatannya," katanya di Jakarta, Senin (8/4).

Selain itu, BMKG juga memberikan peringatan dini gelombang tinggi untuk beberapa wilayah di Indonesia dalam empat hari ke depan hingga Kamis (11/4).

Terpantau adanya siklon tropis Wallace 990 hPa di Samudera Hindia barat laut Australia. Pola tekanan rendah 1008 hPa di Samudera Pasifik utara Papua dan 1008 hPa di Laut Arafuru bagian tengah. Pola Angin di wilayah utara Indonesia umumnya dari barat laut- timur laut dengan kecepatan 4-20 knot, sedangkan di wilayah selatan Indonesia umumnya dari barat daya-barat laut dengan kecepatan 4-20 knot.

"Kecepatan angin tertinggi terpantau di Samudera Hindia selatan Nusa Tenggara Barat hingga NTT. Kondisi ini mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang di sekitar wilayah tersebut," ucapnya.

Oleh karena itu, perlu diwaspadai gelombang tinggi 1,25-2,5 meter (sedang), di antaranya perairan utara Sabang, perairan Sabang-Banda Aceh, perairan barat Aceh, perairan barat Kepulauan Simeulue hingga Kepulauan Mentawai, perairan Bengkulu, Samudera Hindia barat Aceh hingga Bengkulu, perairan selatan Pulau Sumba hingga Pulau Rote, Selat Sumba bagian barat, Selat Sape bagian selatan, Laut Sawu, Laut Timor Selatan NTT, Laut Arafuru bagian Tengah hingga Timur, perairan Kepulauan Sangihe hingga Kepulauan Talaud, Laut Maluku bagian utara, perairan utara Halmahera, Laut Halmahera, perairan utara Papua Barat hingga Biak, dan Samudera Pasifik Utara Halmahera hingga Papua.

Selain itu juga perlu waspada potensi gelombang tinggi 2,5-4 meter (tinggi), seperti perairan barat Lampung, Selat Sunda bagian selatan, Samudera Hindia barat Lampung, perairan selatan Jawa hingga Pulau Sumbawa, Selat Bali-Selat Lombok-Selat Alas bagian selatan dan Samudera Hindia selatan Jawa hingga NTT.

Prabowo meminta semua pihak untuk memperhatikan risiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran, seperti perahu nelayan dengan kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter. Kemudian kapal tongkang dengan kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1,5 meter, kapal feri dengan kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2,5 meter, serta kapal ukuran sesar seperti kapal kargo/kapal pesiar dengan kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4,0 meter.

"BMKG mengimbau kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi agar tetap selalu waspada," ungkap Prabowo.

Sementara itu, BMKG mengamati terjadi El Nino lemah atau kondisi cuaca minim hujan. Diprediksi Mei, Juni El Nino meluruh. Bulan Juli diperkirakan El Nino sudah tidak ada atau normal. Namun tetap diwaspadai saat Juni-Juli sudah masuk musim kemarau dan El Nino lemah masih terjadi di Juni.

Namun lanjut Prabowo sifat musim kemarau terpantau normal. BMKG memperkirakan puncak musim kemarau terjadi di bulan Agustus.



Sumber: Suara Pembaruan