Polri Ungkap Perdagangan Manusia Jaringan Afrika-Timur Tengah

Polri Ungkap Perdagangan Manusia Jaringan Afrika-Timur Tengah
Dirtipidum Bareskrim Polri, Brigjen Hery Nahak (memegang mik) menjelaskan tentang pengungkapan sindikat perdagangan manusia dengan ke luar negeri di Mabes Polri, Selasa, 9 April 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Farouk Arnaz )
Farouk Arnaz / JAS Selasa, 9 April 2019 | 15:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mabes Polri mengungkap sindikat perdagangan manusia dengan empat negara tujuan yakni Maroko, Turki, Suriah, dan Arab Saudi. Modus kasus ini juga masih saja klasik yakni iming-iming hidup yang lebih baik di negeri orang.

Menurut Direktur Tipidum Bareskrim Polri Brigjen Hery Nahak untuk jaringan Maroko ada dua tersangka yakni Mutiara binti Muhammad Abas dan Farhan bin Abu Yarman.

Mereka merekrut dan mengirimkan pekerja migran yang dilakukan secara nonprosedural sekitar 500 orang. Korban berasal dari Sumbawa, NTB, yang dibawa ke Lombok-Jakarta-Batam-Malaysia-Maroko.

”Di sana ada agen pemesan. Modus menawarkan korban kerja di Maroko sebagai pembantu rumah tangga dengan gaji (setara) Rp 3-5 juta perbulan. Setelah bekerja di sana ternyata korban mengalami kekerasan," kata Hery.

"Tenaga migran Indonesia yang nonprosedural baru bisa terungkap setelah di sana ada persoalan karena saat itu mereka akan kabur dan kalau bisa ke KBRI atau Konjen yang lalu meneruskan ke Kementerian luar negeri. Dari sana kita baru mengetahui ada pengiriman ini,” kata Hery di Mabes Polri, Selasa (9/4/2019).

Pelaku mendapat keuntungan Rp 3 juta per orang sehingga mereka mengantongi Rp 900 juta sejak beroperasi sejak 2016 lalu. Polisi yakin jika masih banyak korban jaringan Maroko ini yang belum terungkap karena mereka bisa jadi tidak menemui masalah meski saat ini sudah berada di Maroko.

Yang kedua adalah jaringan Turki dengan tersangka Erna Rahmawati dan Saleha. Total ada 220 orang yang mereka berangkatkan dan rata-rata dari Bima. Jalurnya Jakarta-Oman-Instabul. Korban dijanjikan gaji Rp 7 juta per bulan namun malah mendapat pelecehan seksual dan tidak digaji. Para pelaku mengambil keuntungan Rp 8 juta per orang.

Ketiga jaringan Suriah dengan tersangka Muhammad Abdul Halim yang mengirim 300 orang. Korban dari Tangerang, Banten.

Terakhir jaringan Arab Saudi dengan tersangka Faisal Hussein dan Abdalla Ibrahim (WN Etiopia). Mereka berdua statusnya adalah pencari suaka yang ditangkap di Indonesia. Mereka memberangkatkan sekitar 200 orang.

Sebenarnya ke empat jaringan ini ditangkap dan diungkap secara terpisah namun dirilis secara bersamaan dan diklaim sebagai kasus TPPO paling besar yang diungkap.

Mereka semua dijerat UU TPPO dan UU Perlindungan Pekerja Migran Indonesia. Mereka diancam maksimal 15 tahun penjara.