Bowo Sidik Akui Diperintah Nusron Wahid Siapkan 400.000 Amplop

Bowo Sidik Akui Diperintah Nusron Wahid Siapkan 400.000 Amplop
Anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, 28 Maret 2019. ( Foto: ANTARA )
Fana Suparman / JAS Selasa, 9 April 2019 | 19:37 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso menyeret nama Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) terkait keberadaan 400.000 amplop yang disita tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Tersangka kasus dugaan suap terkait kerja sama pengangkutan pupuk itu mengklaim diperintahkan Nusron Wahid menyiapkan ratusan ribu amplop yang diduga untuk serangan fajar Pemilu serentak 2019 tersebut.

"Saya diminta oleh partai menyiapkan 400.000 (amplop), Nusron Wahid meminta saya untuk menyiapkan 400.000 (amplop)," kata Bowo usai diperiksa tim penyidik KPK di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (9/4/2019).

Bowo kembali menegaskan diminta Nusron Wahid yang juga politikus Golkar saat dikonfirmasi mengenai kepentingan ratusan ribu amplop tersebut terkait Pilpres atau Pileg. "Diminta Nusron Wahid untuk menyiapkan itu," kata Bowo.

Kembali dikonfirmasi untuk kepentingan Pileg atau Pilpres, Bowo kemudian menyebut posisi Partai Golkar di pemilu 2019.
"Yang jelas partai kami dukung 01," kata Bowo sambil masuk mobil tahanan.

Diketahui, KPK menyita sekitar Rp 8 miliar saat operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Bowo dan anak buahnya Indung serta petinggi PT Humpuss Transportasi Kimia Asty Winasti beberapa waktu lalu. Uang dalam pecahan Rp 20.000 dan Rp 50.000 itu dimasukkan dalam 400.000 amplop dengan 82 kardus dan dua boks kontainer.

Uang tersebut diduga merupakan suap dan gratifikasi yang diterima dan dikumpulkan Bowo dari PT Humpuss Transportasi Kimia dan sejumlah perusahaan lain. Diduga ratusan ribu amplop tersebut disiapkan Bowo untuk serangan fajar pada Pemilu 2019.

Diberitakan, KPK menetapkan anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso dan anak buahnya, staf PT Inersia bernama Indung sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait distribusi pupuk.

Selain Bowo dan Indung, KPK juga menjerat Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti sebagai tersangka. Para pihak tersebut ditetapkan sebagai tersangka setelah diperiksa intensif usai ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu (27/3/2019) hingga Kamis (28/3/2019) dini hari.

Kasus ini bermula saat PT Humpuss Transportasi Kimia berupaya kembali menjalin kerja sama dengan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) untuk mendistribusikan pupuk PT Pupuk Indonesia menggunakan kapal-kapal PT Humpuss Transportasi Kimia. Untuk merealisasikan hal tersebut, PT Humpuss meminta bantuan Bowo Sidik Pangarso.

Pada tanggal 26 Februari 2019 dilakukan MoU antara PT Pilog dengan PT Humpuss Transportasi Kimia. Salah satu materi MoU tersebut adalah pengangkutan kapal milik PT Humpuss Transportasi Kimia yang digunakan oleh PT Pupuk Indonesia.

Dengan bantuannya tersebut, Bowo meminta komitmen fee kepada PT Humpuss Transportasi Kimia atas biaya angkut yang diterima sejumlah US$ 2 per metrik ton.

 



Sumber: BeritaSatu.com