Pengacara Bowo Sebut Nusron Siapkan 600.000 Amplop Serangan Fajar

Pengacara Bowo Sebut Nusron Siapkan 600.000 Amplop Serangan Fajar
Kepala BNP2TKI Nusron Wahid ( Foto: Humas BNP2TKI )
Fana Suparman / JAS Selasa, 9 April 2019 | 20:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Saut Edward Rajagukguk, pengacara anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar, Bowo Sidik Pangarso membenarkan kliennya diperintahkan politikus Golkar, Nusron Wahid menyiapkan 400.000 amplop untuk serangan fajar pada Pemilu 2019.

Saut menyebutkan amplop serangan fajar itu disiapkan karena Bowo dan Nusron kembali maju sebagai calon legislatif (caleg) Golkar dari dapil yang sama, yakni Jateng II. Bahkan, Saut menyebut Nusron yang kini menjabat Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) menyiapkan 600.000 amplop.

"Iya, iya, bahkan katanya 600.000 (amplop) yang siapkan itu Nusron Wahd. Pak Wahid 600.000, Pak Bowo 400.000 amplop," kata Saut usai mendampingi Bowo diperiksa tim penyidik KPK di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (9/4/2019).

Saut membenarkan adanya tanda atau cap jempol di ratusan ribu amplop yang disiapkan Bowo. Namun, Saut mengklaim tanda tersebut tidak ada kaitannya dengan tanda salah satu kubu pasangan calon presiden dan wakil presiden.

"Cap jempol memang dibuat karena supaya tahu bahwa amplop ini sampai atau enggak nanti. Sebagai tanda saja," kata Saut.

Dijelaskan Saut, tanda tersebut dipergunakan sebagai penanda agar amplop-amplop tersebut diterima oleh konstituen di Jawa Tengah. Hal ini lantaran berdasarkan pengalaman Bowo, amplop-amplop yang disiapkan untuk serangan fajar tak seluruhnya diterima oleh konstituen.

‎"Jadi begini, mereka punya pengalaman bahwa amplop itu tak disampaikan kepada yang bersangkutan, nah untuk menghindari itu dibuat tanda cap jempol," kata Saut.

Diketahui, pada Pemilu 2014 lalu, Bowo dan Nusron Wahid maju sebagai caleg Golkar dari Dapil Jateng II. Saat itu, Nusron Wahid meraih suara terbanyak dengan 243.021 suara. Sementara Bowo melenggang ke Senayan dengan raihan suara 66.909.

Setelah ditetapkan sebagai tersangka Golkar memecat Bowo dari jabatannya sebagai Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Jawa Tengah I kepengurusan DPP Golkar. Jabatan tersebut saat ini diemban oleh Nusron.

Saut memastikan kliennya akan kooperatif menjalani proses hukum ini. Termasuk menyampaikan kepada penyidik mengenai perintah Nusron Wahid menyiapkan ratusan ribu amplop tersebut.

"Saya minta supaya Bowo kooperatif. Termasuk itu juga (mengakui diperintah Nusron Wahid)," katanya.

Sebelumnya, Bowo menyeret nama Nusron Wahid terkait keberadaan 400.000 amplop yang telah disita tim penyidik KPK. Bowo mengklaim diperintahkan Nusron menyiapkan ratusan ribu amplop untuk serangan fajar pada hari pencoblosan pada 17 April mendatang.

"Saya diminta oleh partai menyiapkan 400.000 (amplop), Nusron Wahid meminta saya untuk menyiapkan 400.000 (amplop)," kata Bowo usai diperiksa tim penyidik KPK di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (9/4/2019).

Diketahui, KPK menyita sekitar Rp 8 miliar saat operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Bowo dan anak buahnya Indung serta petinggi PT Humpuss Transportasi Kimia Asty Winasti beberapa waktu lalu. Uang dalam pecahan Rp 20.000 dan Rp 50.000 itu dimasukkan dalam 400.000 amplop dengan 82 kardus dan dua boks kontainer.

Uang tersebut diduga merupakan suap dan gratifikasi yang diterima dan dikumpulkan Bowo dari PT Humpuss Transportasi Kimia dan sejumlah perusahaan lain. Diduga ratusan ribu amplop tersebut disiapkan Bowo untuk serangan fajar pada Pemilu 2019.

Diberitakan, KPK menetapkan anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso dan anak buahnya, staf PT Inersia bernama Indung sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait distribusi pupuk. Selain Bowo dan Indung, KPK juga menjerat Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti sebagai tersangka.

Pihak-pihak tersebut ditetapkan sebagai tersangka setelah diperiksa intensif usai ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu (27/3) hingga Kamis (28/3) dinihari.

Kasus ini bermula saat PT Humpuss Transportasi Kimia berupaya kembali menjalin kerja sama dengan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) untuk mendistribusikan pupuk PT Pupuk Indonesia menggunakan kapal-kapal PT Humpuss Transportasi Kimia.

Untuk merealisasikan hal tersebut, PT Humpuss meminta bantuan Bowo Sidik Pangarso. Pada tanggal 26 Februari 2019 dilakukan MoU antara PT Pilog dengan PT Humpuss Transportasi Kimia. Salah satu materi MoU tersebut adalah pengangkutan kapal milik PT Humpuss Transportasi Kimia yang digunakan oleh PT Pupuk Indonesia.

Dengan bantuannya tersebut, Bowo meminta komitmen fee kepada PT Humpuss Transportasi Kimia atas biaya angkut yang diterima sejumlah US$ 2 per metrik ton. Selain suap sekitar Rp 310 juta dan US$ 85.130 dari PT Humpuss Transportasi Kimia, Bowo juga diduga menerima suap dan gratifikasi dari sejumlah perusahaan lain.



Sumber: Suara Pembaruan