KPAI: Usut Tuntas Kekerasan Audrey di Pontianak

KPAI: Usut Tuntas Kekerasan Audrey di Pontianak
Ilustrasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) ( Foto: kpai.go.id )
Maria Fatima Bona / IDS Rabu, 10 April 2019 | 10:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia bidang Pendidikan, Retno Listyarti, mengaku prihatin dengan peristiwa kekerasan antara sesama anak yang terjadi di Pontianak. Korban yang merupakan pelajar SMP dikeroyok oleh 12 siswa SMA karena masalah asmara.

Oleh karena itu, KPAI meminta pihak kepolisian untuk mengusut tuntas dan mendorong penyelesaian kasus ini menggunakan ketentuan dalam UU No 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) untuk para pelaku.

“KPAI dan KPPAD (Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah) akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian yang menangani kasus ini. KPAI mengingatkan kembali kepada pihak kepolisian dan juga media untuk tidak memberitakan identitas anak pelaku maupun anak korban kekerasan. Pemberitaan anak harus melindungi identitas anak sebagaimana ketentuan dalam pasal 19 ayat (1) dan ayat (2) UU No 11/2012 tentang SPPA,” kata Retno melalui siaran pers diterima Beritasatu, Selasa (9/4).

Retno menuturkan, langkah selanjutnya, KPAI/KPPAD Pontianak akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Pontianak untuk pemenuhan hak rehabilitasi kesehatan korban, termasuk pengawasan ke pihak rumah sakit yang merawat korban.

Selain itu, KPAI/KPPAD juga akan berkoordinasi Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Pontianak untuk memberikan layanan psikologis, baik kepada anak korban maupun anak pelaku.

“P2TP2A biasanya memiliki psikolog untuk melakukan asesmen psikologis dan rehabilitasi psikologis agar para remaja tersebut tidak mengulangi perbuatannya. Anak-anak ini harus dibantu memahami konsep diri yang positif dan memiliki tujuan hidupnya. Di sini peran orangtua sangat penting untuk pola asuh positif di keluarga,” jelasnya.

Selanjutnya, KPAI akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan kota dan provinsi. Pasalnya, korban adalah siswi SMP yang kewenangannya berada di kota/kabupaten, sementara para pelaku merupakan pelajar jenjang SMA yang kewenangannya berada di provinsi.

Seperti diketahui, sejak Selasa (9/4) pagi, warganet dihebohkan dengan beredarnya kisah pengeroyokan yang dilakukan oleh 12 siswa SMA terhadap seorang siswa SMP. Tak hanya tubuh korban yang dianiaya, tetapi organ intimnya pun ikut dirusak hingga korban harus dirawat di rumah sakit.

Kejadian pengeroyokan terhadap siswi SMP ini terjadi pada Jumat (29/3) lalu. Korban tak langsung mengadu kepada orang tua karena diancam oleh para pelaku. Setelah orang tua tahu kasus yang menimpa anaknya, barulah mereka melaporkan ke pihak kepolisian.

Kasus ini memancing keprihatinan dari berbagai pihak, yang dipicu dengan tagar #JusticeForAudrey dan petisi di laman www.change.org. Tagar tersebut bahkan sempat menduduki peringkat pertama di tagar terpopuler di dunia karena disuarakan oleh para selebriti Indonesia maupun dunia.

Hingga saat ini, petisi tersebut sudah ditandatangani oleh hampir tiga juta orang. Pengacara kondang Hotman Paris pun sudah menyatakan siap menjadi pengacara korban.



Sumber: Suara Pembaruan