BPPT Pasang Pendeteksi Tsunami di Selat Sunda

BPPT Pasang Pendeteksi Tsunami di Selat Sunda
Buoay atau alat pendetesi tsunami atau buoy produksi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dipasang di Selat Sunda. BPPT) hari ini, pada Rabu (10/4/2019) memberangkatkan kapal riset Baruna Jaya IV ke Selat Sunda untuk memasang alat pendeteksi tsunami tersebut. ( Foto: Beritasatu Photo / Ari Supriyanti Rikin )
Ari Supriyanti Rikin / JAS Rabu, 10 April 2019 | 15:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) hari ini, Rabu (10/4) memberangkatkan kapal riset Baruna Jaya IV ke Selat Sunda untuk memasang buoy atau alat pendeteksi tsunami.

Alat pendekteksi tsunami generasi ketiga karya anak bangsa ini diberi nama buoy Merah Putih. Satu buoy dipasang pascatsunami yang menerjang wilayah dan pesisir Selat Sunda Desember 2018. Proses pemberangkatan dan pemasangan diperkirakan memakan waktu empat hari.

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan, pemasangan buoy Merah Putih ini sebagai upaya membangun kembali sistem peringatan dini mitigasi bencana tsunami sesuai arahan Presiden dalam rapat terbatas kesiapsiagaan bencana Januari 2019.

"BPPT melakukan kaji terap teknologi sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya membangun teknologi multibencana dan mengurangi risiko khususnya melalui peringatan dini tsunami," katanya di sela-sela pemberangkatan Kapal Baruna Jaya IV di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (10/4/2019).

Hammam menjelaskan, buoy generasi 3 ini dibuat sekitar dua bulan 10 hari ini merupakan pembaruan dari buoy generasi 1 dan 2 yang pernah dibuat BPPT tahun 2006-2013.

"Buoy generasi 1 dan 2 sudah dibuat dan dioperasikan bersama buoy lain dari negara sahabat pascatsunami Aceh tahun 2004," ucapnya.

Namun dalam perjalanannya, buoy rawan kerusakan akibat vandalisme. Hammam menegaskan,  buoy generasi 3 ini harus menjawab tantangan vandalisme.

Akhirnya, BPPT membuat agar komponen tidak menarik para perusak, pencuri terhadap infrastruktur di lautan lepas ini. Komponen buoy ini juga ada bagian yang mengapung dan juga ocean bottom unit atau unit diletakkan di dasar laut.

Selain memasang buoy, BPPT juga memasang kabel bawah laut atau cable base tsunameter (CBT) sepanjang 3 kilometer dari Pulau Sertung. Pendeteksi berbasis kabel ini diharapkan memperkuat pengamatan potensi tsunami.

Hammam berharap di tahun 2019 jika anggaran mendukung, BPPT akan memasang tiga buoy lagi di sejumlah perairan Indonesia rawan tsunami seperti di Sumatera bagian barat, Papua, selatan Jawa, dan Sulawesi serta dua titik CBT di Pulau Sertung, dan Mentawai.

"Indonesia harus punya sensor di seluruh kawasan rawan bencana, pesisir pantai, kawasan industri dan wisata. Apalagi kita punya cita-cita menjadi poros maritim dunia. Artinya semuanya harus dimulai," paparnya.

Waktu berharga untuk evakuasi di tengah ancaman tsunami (golden time) di Indonesia lanjutnya hanya 10-15 menit. Artinya peringatan dini harus memberi informasi yang bisa mengarahkan evakuasi cepat dan selamat.

Hammam menyebut, satu buoy dari pembuatan, pemasangan hingga pemeliharaan satu tahun mencapai Rp 5 miliar. Pemasangan buoy berikutnya, BPPT akan melibatkan industri strategis di Indonesia.

Ditargetkan dalam kurun waktu tahun 2020-2024 Indonesia bisa memiliki 10 buoy dan 2.000 kilometer CBT.

Turut hadir dalam pelepasan Kapal Baruna Jaya IV, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Dwikorita Karnawati, Kepala Badan Informasi Geospasial Hasanuddin Z Abidin, Direktur Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Bernardus Wisnu Widjaja dan staf ahli Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi bidang infrastruktur Hari Purwanto.



Sumber: Suara Pembaruan