Pengacara Bowo Sebut Ada Menteri Jokowi yang Terkait Amplop Serangan Fajar

Pengacara Bowo Sebut Ada Menteri Jokowi yang Terkait Amplop Serangan Fajar
Anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, 28 Maret 2019. ( Foto: ANTARA )
Fana Suparman / MPA Rabu, 10 April 2019 | 18:12 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar, Bowo Sidik Pangarso kembali mengungkap fakta mengejutkan mengenai 400.000 amplop yang dipersiapkannya untuk serangan fajar Pemilu 2019. Pengacara Bowo, Saut Edward Rajagukguk menyebut terdapat peranan salah seorang menteri pemerintahan Jokowi-JK yang terkait dengan ratusan ribu amplop yang berisi uang secara total sekitar Rp 8 miliar tersebut.

Hal tersebut diungkapkan Saut usai mendampingi Bowo diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan suap kerja sama pengangkutan pupuk antara PT Pupuk Indonesia Logistik dan PT Humpuss Transportasi Kimia di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (10/4/2019).

"Sumber uang yang memenuhi Rp 8 miliar yang ada di amplop tersebut  dari salah satu menteri yang sekarang lagi jadi menteri di kabinet ini," kata Saut di Gedung KPK, Jakarta.

Meski demikian, Saut masih enggan membuka identitas menteri yang dimaksud. Dikonfirmasi apakah menteri tersebut masuk dalam Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Saut mengaku tidak mengetahuinya. Demikian juga saat dikonfirmasi mengenai menteri tersebut berasal dari partai koalisi atau unsur profesional. Saut meminta awak media bersabar dan menyerahkan kepada tim penyidik untuk mendalami hal tersebut.

"Kita kasih kesempatan kepada penyidik untuk mendalami," katanya.

Tak hanya menteri, Saut mengungkap terdapat petinggi BUMN yang juga terkait dengan amplop serangan fajar ini. Saut memastikan kliennya akan koperatif dengan penyidik untuk mengungkap secara terang mengenai kasus yang menjeratnya maupun keterlibatan pihak lain terkait amplop serangan fajar. "Harus kooperatif ada menteri, ada direktur BUMN," ungkap Saut.

Untuk menunjukkan keseriusannya mengungkap kasus ini, Saut mengatakan Bowo bakal mengajukan diri sebagai Justice Collaborator (JC). Saut berjanji Bowo bakal membantu KPK membongkar kasus ini. "(JC) akan ajukan segera," katanya.

Sebelumnya, Bowo menyeret nama politikus Golkar, Nusron Wahid terkait ratusan ribu amplop serangan fajar ini. Bowo mengklaim diperintahkan Nusron yang kini menjabat Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) untuk menyiapkan ratusan ribu amplop tersebut.

"Saya diminta oleh partai menyiapkan 400.000‎ (amplop), Nusron Wahid meminta saya untuk menyiapkan 400.000  (amplop)," kata Bowo usai diperiksa tim penyidik KPK di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (9/4).

Bowo kembali menegaskan diminta Nusron Wahid yang juga caleg petahana Partai Golkar dari Dapil Jateng II saat dikonfirmasi mengenai kepentingan ratusan ribu amplop tersebut terkait Pilpres atau Pileg.

"Diminta Nusron Wahid untuk menyiapkan itu," kata Bowo.

Kembali dikonfirmasi untuk kepentingan Pileg atau Pilpres, Bowo kemudian menyebut posisi Partai Golkar di pemilu 2019.
"Yang jelas partai kami dukung 01," kata Bowo sambil masuk mobil tahanan.

Diketahui, KPK menyita sekitar Rp 8 miliar saat operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Bowo dan anak buahnya Indung serta petinggi PT Humpuss Transportasi Kimia Asty Winasti beberapa waktu lalu. Uang dalam pecahan Rp 20.000  dan Rp 50.000 r itu dimasukkan dalam 400 ribu amplop dengan 82 kardus dan dua boks kontainer. Uang tersebut diduga merupakan suap dan gratifikasi yang diterima dan dikumpulkan Bowo dari PT Humpuss Transportasi Kimia dan sejumlah perusahaan lain. Diduga ratusan ribu amplop tersebut disiapkan Bowo untuk serangan fajar pada Pemilu 2019.



Sumber: Suara Pembaruan