Nusron dan Bowo Bahas Serangan Fajar Saat Bertemu di DPR

Nusron dan Bowo Bahas Serangan Fajar Saat Bertemu di DPR
Kepala BNP2TKI Nusron Wahid ( Foto: Humas BNP2TKI )
Fana Suparman / MPA Rabu, 10 April 2019 | 19:17 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com- Saut Edward Rajagukguk, pengacara anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso menegaskan kliennya diperintahkan politikus Golkar Nusron Wahid menyiapkan 400.000 amplop untuk serangan fajar pada Pemilu 2019. Perintah itu disampaikan Nusron kepada Bowo saat keduanya bertemu di DPR. Hal tersebut diungkapkan Saut usai mendampingi Bowo diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan suap kerja sama pengangkutan pupuk antara PT Pupuk Indonesia Logistik dan PT Humpuss Transportasi Kimia di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (10/4).

"Dia (Bowo) mengakui secara terus terang memang saya diperintah. Secara lisan ketemu berdua. Di DPR," kata Saut.
Meski demikian, Saut mengaku tak mengetahui secara pasti kapan pertemuan itu terjadi. Dikatakan Saut, dalam pemeriksaan hari ini, tim penyidik belum mendalami secara rinci mengenai pertemuan tersebut.

"Tadi nggak ditanya sama penyidik tanggalnya tanggal berapa, sehingga saya kurang tahu tanggalnya itu. Bulannya juga tadi tidak ditanyakan sama penyidik," katanya.

Saut juga masih enggan mengungkap secara pasti lokasi pertemuan tersebut. Bowo hanya menyebut pertemuan antara Bowo dan Nusron terjadi di sebuah tempat di kompleks Parlemen. Diketahui, Nusron dan Bowo merupakan caleg petahana Partai Golkar yang maju dari Dapil Jateng II. "Ada di suatu tempat di lingkungan DPR," katanya.

Saut tak mempersoalkan bantahan Nusron terkait pengakuan Bowo mengenai perintah menyiapkan amplop serangan fajar. Saut memastikan pernyataan Bowo tersebut telah disampaikan ke penyidik KPK. Bahkan, Saut telah meminta Bowo untuk menghadirkan saksi yang mengetahui mengenai perintah tersebut agar diperiksa tim penyidik KPK.

"Ya hak beliau (Nusron) untuk membantah itu. Tapi, saya bilang ke klien, kalau nanti ada saksi yang mengetahui dia disuruh, akan dihadirkan di sini (KPK)," katanya.

Saut sebelumnya mengatakan, Bowo diperintah Nusron menyiapkan 400.000 amplop untuk serangan fajar pada Pemilu 2019. Sementara Nusron yang kini menjabat Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) disebut Saut menyiapkan 600.000 amplop. Saut menyebut uang serangan fajar Nusron dan Bowo berasal dari sumber yang berbeda.

"Bukan. Beda. Beda sumber. Pak Nusron dia ada sumber sendiri Bowo punya sumber sendiri," katanya.
Saut mengatakan, saat ini tim penyidik sedang mendalami informasi mengenai serangan fajar ini. Untuk itu, Saut meminta masyarakat bersabar menunggu proses hukum yang dilakukan KPK.

"Kita berikan kesempatan kepada penyidik untuk mendalami lebih lanjut," katanya.

Sebelumnya, Bowo menyeret nama politikus Golkar, Nusron Wahid terkait ratusan ribu amplop serangan fajar ini. Bowo mengklaim diperintahkan Nusron untuk menyiapkan ratusan ribu amplop tersebut.

"Saya diminta oleh partai menyiapkan 400 ribu‎ (amplop), Nusron Wahid meminta saya untuk menyiapkan 400 ribu (amplop)," kata Bowo usai diperiksa tim penyidik KPK di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (9/4).

Bowo kembali menegaskan diminta Nusron Wahid yang juga caleg petahana Partai Golkar dari Dapil Jateng II saat dikonfirmasi mengenai kepentingan ratusan ribu amplop tersebut terkait Pilpres atau Pileg.
"Diminta Nusron Wahid untuk menyiapkan itu," kata Bowo.

Kembali dikonfirmasi untuk kepentingan Pileg atau Pilpres, Bowo kemudian menyebut posisi Partai Golkar di pemilu 2019.
"Yang jelas partai kami dukung 01," kata Bowo sambil masuk mobil tahanan.

Diketahui, KPK menyita sekitar Rp 8 miliar saat operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Bowo dan anak buahnya Indung serta petinggi PT Humpuss Transportasi Kimia Asty Winasti beberapa waktu lalu. Uang dalam pecahan Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu itu dimasukkan dalam 400 ribu amplop dengan 82 kardus dan dua boks kontainer. Uang tersebut diduga merupakan suap dan gratifikasi yang diterima dan dikumpulkan Bowo dari PT Humpuss Transportasi Kimia dan sejumlah perusahaan lain. Diduga ratusan ribu amplop tersebut disiapkan Bowo untuk serangan fajar pada Pemilu 2019.

Diberitakan, KPK menetapkan anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso dan anak buahnya, staf PT Inersia bernama Indung sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait distribusi pupuk. Selain Bowo dan Indung, KPK juga menjerat Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti sebagai tersangka. Para pihak tersebut ditetapkan sebagai tersangka setelah diperiksa intensif usai ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu (27/3) hingga Kamis (28/3) dinihari.



Sumber: Suara Pembaruan