Kasus Novel, Tim Gabungan Periksa Jenderal Polisi

Kasus Novel, Tim Gabungan Periksa Jenderal Polisi
Poengky Indarti ( Foto: Antara )
Farouk Arnaz / JAS Rabu, 10 April 2019 | 20:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com — Tim Gabungan yang dibentuk oleh Kapolri Jenderall Tito Karnavian untuk mengusut kasus penyiraman air keras yang menimpa penyidik Novel Baswedan belum mampu berbuat apapun.

Pada Senin hingga Rabu (8 – 10/4/2019) kemarin tim melakukan uji alibi dan pendalaman keterangan saksi-saksi dalam kasus yang membuat Novel cacat seumur hidup itu. Uji alibi dan pendalaman keterangan saksi-saksi dilakukan di Maluku.

Menurut anggota tim Komisioner Komisi Kepolisian Nasional Poengky Indarti dalam rilis Rabu (10/4/2019), yang datang ke Maluku adalah Prof Amzulian Rifai (Ketua Umum Ikatan Sarjana Hukum Indonesia/ISHI), dan Hendardi (Ketua Badan Pengurus Setara Institute).

Lalu ada Ifdhal Kasim (mantan ketua Komnas HAM dan Komisioner Komnas HAM periode 2007-2012) dan Nur Kholis (mantan ketua Komnas HAM dan Komisioner Komnas HAM periode 2007-2017).

“Kami mendalami keterangan saksi-saksi guna dapat mengungkap kasus. Tim juga menyusuri pendekatan scientific crime investigation yang telah dilakukan oleh tim penyidik,” kata Poengky tanpa menjelaskan siapa saksi yang dimaksud.

Tim juga telah mendalami hasil penyidikan tim penyidik, maupun laporan dari Komnas HAM, Ombudsman, dan Kompolnas yang sebelumnya melakukan pemantauan terhadap penanganan kasus ini.

“Uji alibi dan pendalaman saksi-saksi di Maluku ini merupakan pengembangan dari uji alibi dan pendalaman saksi-saksi yang sebelumnya telah dilaksanakan Tim Pakar di Malang (20 Maret), Bekasi (27 Maret), dan Sukabumi (2 April),” sambungnya.

Hasil yang diperoleh di Malang, Bekasi, Sukabumi dan Ambon melengkapi penelusuran tim di Jakarta, di mana tim juga mendengar keterangan dari profesor ahli kimia dan dokter ahli mata, serta memeriksa kembali jenderal dan beberapa anggota Kepolisian.

Tapi lagi-lagi mantan aktivis HAM itu tidak menjelaskan siapa jenderal polisi yang diperiksa itu. Sejak awal kasus ini terjadi memang muncul spekulasi jika kasus ini dilindungi jenderal polisi makanya tidak terungkap.

“Tim bekerja sama dengan counterpart dari Inggris dan mencoba memperjelas tayangan CCTV yang merekam aksi penyerangan terhadap Novel Baswedan,” lanjutnya.

Dalam waktu dekat tim akan melakukan konsinyering, uji alibi serta pendalaman saksi di Jawa Tengah, dan berkoordinasi dengan lembaga-lembaga terkait antara lain KPK, Komnas HAM, Kompolnas, dan Ombudsman.

Tim menyambut baik jika masyarakat dapat memberikan informasi yang dapat mempercepat pengungkapan kasus ini. Tim akan terus bekerja hingga akhir masa tugas pada tanggal 7 Juli 2019.

Novel disiram air keras oleh orang tak dikenal pada 11 Maret 2017. Kedua matanya rusak parah. Novel pun berobat di Singapura.



Sumber: BeritaSatu.com