Dituding Berat Sebelah, GKR Hemas: Semua Capres Diterima Sultan

Dituding Berat Sebelah, GKR Hemas: Semua Capres Diterima Sultan
Saat Calon Presiden nomer urut 01 bersama Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri diterima Sri Sultan Hamengku Buwono X dan permaisurinya, GKR Hemas di Kraton pada 23 Maret lalu di Kraton Yogyakarta. ( Foto: istimewa )
Fuska Sani Evani / CAH Kamis, 11 April 2019 | 09:11 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com -  Dituding berpihak pada salah satu Calon Presiden, permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Hemas menegaskan bahwa Kraton Yogyakarta tidak berpihak pada salah satu pasangan. Ini dibuktikan ketika capres dua belah pihak diterima Sri Sultan HB X dengan terbuka.

“Semua diterima dengan baik, cuma masalahnya, ada salah satu pihak yang mempublikasikan, sementara pihak lain tidak dan mematuhi kehendak Ngarso Dalem (Sri Sultan HB X-red),” ucap GKR Hemas, Rabu (10/4/2019) malam.

Hemas bahkan menyatakan, kubu Prabowo Subianto cenderung menggunakan cara-cara yang tidak simpatik dan memanfaatkan foto-foto yang sengaja disebar secara viral. Sementara dari pihak Joko Widodo tidak melakukan hal tersebut.

“Pak Jokowi datang dengan Bu Megawati dan diterima kok, jadi tidak ada yang berat sebelah. Kalau soal lokasi penerimaannya, ya karena Ngarso Dalem saat menerima Pak Prabowo dilakukan di Kantor Gubernur, Kepatihan, karena jadwal yang padat saja. Tidak ada motivasi membedakan, Pak Jokowi diterima di Kraton, sementara Pak Prabowo di Kepatihan,” tegas Hemas.

Saat Calon Presiden nomer urut 02 Prabowo Subianto diterima Sri Sultan Hamengku Buwono X dan permaisurinya, GKR Hemas di Kepatihan, pada Senin, 8 April 2019.

Pernyataan Hemas itu disampaikan menyusul pemberitaan-pemberitaan bernada provokatif cenderung hoax yang mengatakan bahwa Sri Sultan menolak kedatangan Joko Widodo di Kraton karena menyebar aura negatif. Selain itu, mantan Presiden PKS, Hidayat Nurwahid pun dalam kampanye terbuka di Solo, Rabu (10/4) menyampaikan di depan massa kampanye bahwa Raja Yogyakarta hanya mau menerima Prabowo, sementara capres lain tidak.

Hemas menyatakan, politik adu-domba itu memang sengaja dihembuskan di masa kampanye Pemilu, untuk mendongkrak elektabilitas salah satu pihak, tetapi hal itu telah menyebabkan masyarakat di tingkat grass-root terbawa arus.

“Sekali lagi, Yogya ini sedang jadi sorotan, jadi apa yang terjadi di Yogya, bahkan peristiwa kecil, bisa jadi besar, dan sengaja dibesar-besarkan untuk kepentingan politik jangka pendek. Jawaban soal penerimaan Sultan kepada para Capres itu sudah kita sampaikan, tetapi kalau diungkit kembali, ya jelas kan, kalau ada kepentingan di situ,” ucap Hemas.



Sumber: Suara Pembaruan