Ratna Minta Maaf Telah Berbohong ke Saksi Pendemo

Ratna Minta Maaf Telah Berbohong ke Saksi Pendemo
Ratna Sarumpaet ( Foto: ANTARA FOTO / Aprillio Akbar )
Bayu Marhaenjati / CAH Kamis, 11 April 2019 | 13:52 WIB

Jakart, Beritasatu.com - Terdakwa Ratna Sarumpaet meminta maaf kepada kedua saksi atas nama Harjono dan Chaerulah karena berbohong telah mengalami penganiayaan, dalam sidang kasus berita bohong atau hoax, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, hari ini.

Harjono dan Chaerulah dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) sebagai saksi karena sempat menggelar aksi unjuk rasa, mendesak polisi untuk bertindak cepat menangkap pelaku penganiayaan terhadap Ratna, di Mapolda Metro Jaya, awal Oktober 2018 lalu.

"Harjono dan Chaerulah, saya minta maaf ke kalian. Aku membuat kalian kecewa. Kakak memang bohong, kakak memohon maaf soal itu. Dan, mudah-mudahan sampai akhir hidup saya akan tetap menjadi aktivis karena aktivis tidak mungkin korupsi, tidak mungkin kena suap. Maaf sekali lagi," ujar Ratna, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (11/4/2019).

Kedua saksi, kemudian merespons permintaan maaf itu dengan anggukan kepala. Harjono bahkan, sempat bertepuk tangan ketika Ratna menyampaikan akan tetap menjadi aktivisi seumur hidup.

Ratna pun mengatakan, tidak keberatan dengan kesaksian yang disampaikan kedua saksi itu soal aksi unjuk rasa. "Ya benar semua," kata Ratna.

Sementara itu, pada persidangan kedua saksi yang merupakan aktivis mahasiswa itu menyampaikan, menggelar demo karena rasa kemanusian melihat Ratna Sarumpaet mengalami penganiayaan. Mereka pun meminta polisi untuk mengusut cepat pelaku penganiayaan agar kasus ini tidak memicu konflik horizontal, di tahun politik.

"Tuntutan kami meminta tangkap siapa pelaku penganiayaan terhadap bu Ratna. Waktu itu saya tahu karena banyak berita di media, Facebook, ada peristiwa penganiayaan," kata Harjono.

Harjono menuturkan, kelompoknya yang bernama Aliansi Lentera Muda Indonesia itu, mulai menggelar demo sekitar pukul 11.30 WIB, di depan Mapolda Metro Jaya. Mereka sempat membakar ban dan spanduk saat menyampaikan pendapat.

"Ada sekitar 60 orang. Metro mini satu, sepeda motor 10. Ya, kain (spanduk) kita bakar, sama dua ban mobil," jelas Harjono.

Harjono menambahkan, pembakaran ban dilakukan massa karena untuk mencari perhatian kepolisian. Kemudian, tiga orang perwakilan diterima untuk melakukan dialog dengan polisi. "Setelah melakukan audience kami membubarkan diri. Tidak dibubarkan," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com