2 Tahun Teror Novel Baswedan, WP KPK Desak Presiden Bentuk TGPF Independen

2 Tahun Teror Novel Baswedan, WP KPK Desak Presiden Bentuk TGPF Independen
Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Indonesia melakukan aksi solidaritas pada Peringatan dua tahun kasus kekerasan terhadap Novel Baswedan di depan gedung KPK, Jakarta, Kamis (11/4/2019). Dalam aksinya mahasiswa lintas universitas tersebut menyatakan dukungannya terhadap KPK agar pemerintah segera mengungkap aktor dibalik kasus kekerasan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan dan menolak segala bentuk pelemahan terhadap KPK. ( Foto: ANTARA FOTO / Indrianto Eko Suwarso )
Fana Suparman / JAS Kamis, 11 April 2019 | 15:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kasus teror dengan penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan tak kunjung terungkap. Pihak kepolisian belum juga mampu menangkap pelaku dan otak teror yang terjadi pada 11 April 2017 atau dua tahun lalu tersebut.

Untuk memperingati dua tahun peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Novel ini, Wadah Pegawai (WP) KPK bersama Koalisi Masyarakat Sipil menggelar serangkaian kegiatan pada Kamis (11/4/2019). Peringatan ini digelar salah satunya untuk mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Independen.

Rangkaian acara ini diawali dengan aksi bersama yang dimeriahkan dengan penampilan musik, mimbar bebas dan orasi dari berbagai elemen masyarakat.

"Gerakan mahasiswa hingga aktivis buruh termasuk deklarasi anti teror terhadap pemberantasan korupsi oleh tokoh-tokoh Nasional," kata Ketua WP KPK Yudi Purnomo dalam siaran persnya, Kamis (11/4/2019).

Rangkaian peringatan dua tahun teror terhadap Novel berlanjut hingga malam hari dengan dialog budaya untuk mendorong penuntasan kasus Novel. Dialog ini akan dipimpin oleh Cak Nun bersama Novel serta dimeriahkan musikalisasi puisi oleh Najwa Shihab.

"Pada hari yang sama, rangkaian aksi dilakukan ke berbagai daerah serta Aksi Kamisan yang digelar di depan Istana Negara pada Pukul 16.00 WIB," kata Yudi.

Peringatan dua tahun teror terhadap Novel ini didukung oleh berbagai elemen tanpa mempersoalkan afiliasi terhadap pilihan presiden. Yudi juga menegaskan aksi ini tak memiliki tujuan politik tertentu.

Pemberantasan korupsi, lanjut Yudi, merupakan impian seluruh rakyat Indonesia. Sebab rakyat sudah muak dengan para pejabat korup yang merampas uang rakyat untuk kekayaan pribadi.

"Sehingga rakyat menjadi miskin, terlantar, dan tidak mendapatkan akses yang layak untuk pendidikan, kesehatan dan lapangan pekerjaan. Untuk itulah hari ini apapun pilihan politikmu mari berkumpul di KPK untuk mendukung Presiden berani membentuk TGPF Independen agar teror terhadap KPK berhenti dan pelaku teror sebelumnya tertangkap," tegasnya.



Sumber: Suara Pembaruan