Peringatan 2 Tahun Kasus Novel Diwarnai Tudingan Politik

Peringatan 2 Tahun Kasus Novel Diwarnai Tudingan Politik
Aksi mahasiswa memperingati dua tahun teror terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan di depan Gedung KPK, Jakarta, 11 April 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Fana Suparman )
Fana Suparman / HA Kamis, 11 April 2019 | 15:46 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Peringatan dua tahun teror terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan di depan Gedung KPK, Jakarta, Kamis (11/4/2019) siang tidak berjalan mulus.

Aksi demonstrasi hingga pembakaran ban oleh sekelompok pemuda yang menyebut Aliansi Pemuda Pengawas KPK justru mengganggu acara peringatan tersebut.

Peristiwa ini bermula saat sekelompok mahasiswa berorasi di sekitar panggung yang didirikan di depan Gedung KPK. Dalam orasinya, mahasiswa dari sejumlah kampus tersebut memberikan dukungan pada Novel Baswedan dan mendesak pemerintah menuntaskan kasus teror Novel.

Namun, sekitar pukul 12.00 WIB, sekelompok pemuda yang menamakan diri mereka Aliansi Pemuda Pengawas KPK mendatangi area Gedung KPK dengan menggunakan dua mobil komando. Kehadiran kelompok pemuda ini membuat kelompok mahasiswa yang sedang berorasi memilih membubarkan diri dan memilih masuk ke area Gedung KPK.

Kelompok Aliansi Pemuda Pengawas KPK tersebut mulanya menggelar aksi damai dengan meminta KPK tidak tebang pilih dalam penanganan kasus korupsi. Namun, massa mulai panas setelah mencium gelagat adanya kepentingan politik dalam peringatan 2 tahun teror terhadap Novel.

Salah satunya lantaran adanya kelompok pengamanan sebuah ormas pemuda yang diperkenankan masuk ke dalam lobi KPK, sementara kelompok mereka dilarang masuk.

Tak hanya itu, mereka juga mempertanyakan independensi KPK khususnya Novel dalam memberantas tindak kejahatan korupsi di tanah air. Para demonstran menuding Novel terafiliasi dengan salah satu kelompok politik.

"Kami meminta supaya pimpinan KPK menjelaskan status politik Novel Baswedan. Kami meminta dijelaskan pernyataan orang Gerindra yang menyebut Novel Baswedan adalah 'orang kita'," kata koordinator aksi dalam orasinya di Gedung KPK.

Selain itu, kelompok pemuda ini juga mengkritisi pemberian penghargaan kepada dua mantan komisioner KPK, ABraham Samad dan Bambang Widjojanto. Mereka menilai penghargaan tersebut bermuatan politik.

Aksi ini bertambah panas, saat sejumlah demonstran membakar ban bekas dan spanduk. Bahkan, kelompok tersebut sempat saling dorong dengan aparat kepolisian yang mencoba memadamkan api yang mereka kelilingi.

Massa mulai tenang setelah mediasi dan ditemui Jubir KPK, Febri Diansyah. Kepada massa aksi, Febri memastikan seluruh pegawai dan pimpinan KPK tidak terkait atau terafiliasi dengan kelompok politik manapun.

"Kami pastikan hal itu tidak benar. KPK beserta seluruh jajarannya termasuk komisioner tidak ada satu pun yang berafiliasi dengan kubu mana pun," katanya.

Sempat terjadi dialog antara Febri dan massa aksi. Setelah berdialog, massa aksi membubarkan diri. Kegiatan peringatan 2 tahun teror terhadap Novel pun kembali berjalan.

Wadah Pegawai KPK menggelar aksi damai dan deklarasi Anti-teror di depan Gedung KPK ini bertepatan dengan peringatan dua tahun teror dengan penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan.

Aksi damai ini digelar untuk kembali meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Independen langsung di bawah Presiden. TGPF ini penting agar kasus teror terhadap Novel maupun teror terhadap pegawai dan pimpinan KPK diusut tuntas dan tidak terulang di kemudian hari.

Aksi damai peringatan teror terhadap Novel ini rencananya akan dihadiri sejumlah tokoh nasional dan para mantan komisioner serta pegawai KPK sejak awal berdiri. Selain itu, acara juga rencananya akan diisi dengan pembacaan deklarasi antiteror terhadap KPK, serta sarasehan budaya oleh Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun, dan konser musik antikorupsi dari sejumlah musisi tanah air salah satunya yakni, eks Gitaris Iwan Fals Band, Digo.

Novel menjadi korban siraman air keras oleh dua orang tak dikenal pada 11 April 2017 lalu. Akibatnya, Novel harus mendapat perawatan intensif di salah satu rumah sakit di Singapura karena kedua matanya mengalami luka parah. Setelah menjalani serangkaian tindakan medis, termasuk operasi, Novel diizinkan tim dokter untuk kembali ke tanah air dan menjalani rawat jalan.

Di sisi lain, pihak kepolisian yang menangani kasus ini belum juga berhasil mengungkap dan menangkap pelaku maupun otak di balik teror terhadap Novel. Setelah hampir dua tahun menangani kasus ini, pihak kepolisian hanya mampu menggambar sketsa dua orang terduga pelaku. Tim gabungan yang dibentuk Kapolri, Jenderal Tito Karnavian pada 8 Januari 2019 pun tak membuahkan hasil hingga saat ini.



Sumber: Suara Pembaruan