Dekranasda NTT Dukung Festival Literasi Nagekeo

Dekranasda NTT Dukung Festival Literasi Nagekeo
Bupati Nagekeo, Yohanes Don Bosco Do (kedua kanan) didampingi istri Bupati Nagekeo Eduarda Yayik Pawitra Gati (kedua kiri) usai menyerahkan penghargaan tokoh “Pelopor Literasi Tenun Ikat Nagekeo NTT" kepada Elias Djo (kanan) dan Julie Laiskodat (kiri) disela acara Launching Festival Literasi Nagekeo 2019 di Jakarta, Kamis (11/4/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Yuliantino Situmorang / YS Kamis, 11 April 2019 | 17:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTT Julie Sutrisno Laiskodat mendukung langkah Pemerintah Kabupaten Nagekeo menggelar Festival Literasi yang akan diadakan Agustus 2019 mendatang. Hal itu sangat penting untuk kemajuan masyarakat, terutama pengembangan SDM.

Diakui, pemerintah daerah setempat memang tengah menggalakkan pentingnya literasi dalam berbagai bidang. Termasuk literasi dalam memperkenalkan kekayaan budaya seperti kain tenun yang menjadi ciri khas NTT.

Saat ini Dekranasda terus merangkul kelompok pengrajin tenun dan menyebarkan informasi yang lengkap ke publik. Informasi itu diberikan dalam satu paket lengkap.

“Tidak hanya literasi dalam tenun, saat ada turis yang membeli selembar tenun, saya juga mencoba untuk memberikan informasi lebih tentang bagaimana filosofi, proses pembuatan tenun, budaya masyarakat di Nagekeo, lengkap dengan keunggulan wisata yang kita miliki. Jadi literasi memiliki impact yang luas,” papar Julie di sela-sela soft launching Festival Literasi Nagekeo 2019 di Perpustakaan Nasional di Jakarta, Kamis (11/4/2019).

Ia menambahkan, dirinya ingin SDM di NTT berkualitas dan itu bisa dibangun lewat membaca.

“Di daerah kami juga banyak penenun, dan ini kita sosialisasikan pentingnya literasi tenun, sehingga orang bisa mengerti filosofi di balik hasil tenun itu sendiri," ujar Julie.

Itu sebabnya, kata Julie, ia yang membina beragam kelompok pengrajin tenun terus mengingatkan agar mereka tak salah dalam membuat motif tenun. Pasalnya berbeda motif, maka beda pula filosofinya.

“Melalui tenun bisa mengenal satu kabupaten seluruhnya. Misalnya ada air terjun dari atas ke bawah garis-garis, itu yang beneran, tempatnya juga ada. Jadi wisata yang kami kembangkan, kami koneksikan ke tenun,” kata dia.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do mengatakan, Festival Literasi itu sebagai upaya menumbuhkan budaya literasi pada ekosistem pendidikan, mulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Johanes mengatakan, meskipun baru berusia 12 tahun, kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Ngada ini tak mau ketinggalan dalam menyelenggarakan pentingnya literasi di antara warganya.

“Apalagi di era digital seperti sekarang, kemampuan literasi penting ditingkatkan agar tak ketinggalan zaman,” ujar Johanes.

Ia menambahkan, festival itu nantinya mengusung tajuk “Membangun Benteng Peradaban Baru di Indonesia Timur”.

Tema itu diangkat karena Kabupaten Nagekeo masih jauh tertinggal dengan kabupaten di daerah lain. Terlihat dari nilai yang diberikan Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik. Nagekeo mendapatkan poin 1,8 dari skala 0-5. Penilaian itu menyangkut para birokrasi masyarakat yang terdidik.

Diharapkan, festival itu mampu membuat para pelayan masyarakat dan birokrasi terdorong untuk bekerja lebih maksimal mengejar ketertinggalan.

 



Sumber: PR