Novel: TGPF Independen Kesempatan Jokowi Tunjukkan Komitmen Berantas Korupsi

Novel: TGPF Independen Kesempatan Jokowi Tunjukkan Komitmen Berantas Korupsi
Penyidik KPK Novel Baswedan berdiri di samping layar yang menampilkan hitung maju waktu sejak penyerangan terhadap dirinya saat diluncurkan di gedung KPK, 11 Desember 2018. ( Foto: Antara / Hafidz Mubarak A )
Fana Suparman / MPA Kamis, 11 April 2019 | 19:07 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com-Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan kembali menuntut Presiden Joko Widodo (Jokowi) segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Independen untuk mengungkap kasus teror yang dialaminya pada 11 April 2017 atau dua tahun lalu. Tuntutan ini disampaikan Novel di sela-sela peringatan dua tahun teror terhadapnya di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (11/4).

"Semua masyarakat Indonesia marilah kita mendesak kepada bapak Presiden untuk mau peduli untuk dibentuk TGPF," kata Novel.

Novel menegaskan, desakan pembentukan TGPF Independen ini tak ada hubungannya dengan politik atau Pilpres yang bakal digelar sekitar enam hari lagi. Meski demikian, Novel menyatakan, pembentukan TGPF Independen menjadi kesempatan bagi Jokowi menunjukkan komitmennya dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

"Ini bukan masalah politik. Bukan masalah kita mau mendukung kita atau bukan tapi kesempatan ini adalah kesempatan yang baik bagi bapak Presiden untuk menunjukan komitmen dalam rangka mendukung pemberantasan korupsi," kata Novel.

Tak hanya terkait kasus teror terhadapnya, Novel menyatakan TGPF Independen penting untuk mengusut kasus teror terhadap pegawai, dan pimpinan KPK serta aktivis antikorupsi lainnya. Ditegaskan Novel, tanpa pengusutan tuntas, teror-teror serupa terus terjadi hingga saat ini. Teror-teror ini harus segera dihentikan agar pemberantasan korupsi dapat dilakukan secara maksimal tanpa hambatan lagi.

"Sekarang teror-teror itu masih terus terjdi. Saya tentunya, kita tentunya berharap kita ingin menghentikan itu. Tidak boleh ada lagi teror-teror yang dilakukan terhadap orang-orang yang berjuang memberantas korupsi. Tidak boleh ada upaya-upaya untuk menghalang-halangi, menghambat dan lain-lain dalam rangka untuk memproses tindak pidana korupsi yang dilakukan."

"Kalaupun itu terjadi maka negara harus hadir. Tidak boleh kemudian aparat ataupun pegawai KPK dalam hal ini yang sedang melaksanakan tugasnya kemudian diganggu dan dibiarkan. Tentu untuk kita bisa mengetahui siapa dibalik pelaku-pelaku itu pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta menjadi sangat penting bukan hanya terkait dengan diri saya yang diserang tapi terkait juga dengan pegawai KPK lainnya yang diserang," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan