Susun Program Ekonomi, Capres Harus Perhatikan Dinamika Global

Susun Program Ekonomi, Capres Harus Perhatikan Dinamika Global
INDEF menggelar diskusi media jelang depat terakhir Calon Presiden dan Wakil Presiden RI, di Jakarta, Kamis, 11 April 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Herman )
Herman / FER Kamis, 11 April 2019 | 22:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ekonom senior INDEF, Fadhil Hasan, mengingatkan calon presiden mendatang agar memperhitungkan dinamika perekonomian global dalam jangka pendek dan menengah, dalam menyusun program ekonomi dan target pertumbuhan. Sebab, kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap kinerja perekonomian nasional.

Fadhil memberi contoh target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 7 persen yang pernah dilontarkan saat kampanye Capres 2014, namun realisasinya hanya bisa tumbuh di angka sekitar 5 persen.

"Salah satu sebab mengapa target tersebut tidak tercapai, itu karena ketika menyusun programnya, mereka tidak mempertimbangkan faktor-faktor global. Saat itu tidak diperhitungkan bahwa harga komoditas turun, juga ada fenomena normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS). Sehingga kemudian sebagai negara yang perekonomianya terbuka, faktor eksternal ini sangat berpengaruh terhadap kinerja perekonomian kita," kata Fadhil Hasan, di acara diskusi media yang digelar INDEF, di Jakarta, Kamis (11/4/2019).

Dalam tiga tahun mendatang (2019-2021), Fadhil mengatakan perekonomian global diprediksi kurang menggembirakan. Pada awal 2019, World Bank juga telah mengeluarkan laporan ekonomi global, di mana perekonomian dunia diprediksi akan melambat dari 3 persen di 2019 ke 2,8 persen di 2021.

Perekonomian AS juga diprediksi akan melambat dari 2,9 persen ke 1,6 persen, lalu wilayah Eropa turun dari 1,9 persen ke 1,3 persen, begitu juga dengan perekonomian Jepang yang melambat dari tumbuh 0,8 persen ke 0,6 persen. Meskipun perekonomian Indonesia diperkirakan naik sedikit dari 5,2 persen menjadi 5,35 persen, namun volume perdagangan global diperkirakan akan stagnan di angka 3,4 persen.

Di sisi lain, kata Fadli, penurunan harga komoditas di pasar global juga harus menjadi perhatian. Apalagi 60 persen ekspor Indonesia berbasis komoditas primer.

"Harga-harga komoditas belum mengalami recovery yang yang baik. Ada recovery, tetapi masih sangat lambat. Sehingga ekspor komoditas belum bisa dijadikan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi kita dalam masa 2 hingga 3 tahun ke depan," kata Fadhil.

Fadli menambahkan, hal lainnya yang juga perlu dicermati adalah terkait ancaman krisis kredit dan hutang di negara berkembang.

"Dinamika perekonomian dunia ini harus sangat diperhitungkan, supaya target-target pertumbuhan ekonomi yang diusung calon presiden benar-benar bisa dicapai, benar-benar janji yang bisa dilaksanakan dan tidak sekedar kata-kata saja," ujar Fadhil.



Sumber: BeritaSatu.com