Menlu Sebut Sandera WNI Meninggal Sebagai "Mujahid"

Menlu Sebut Sandera WNI Meninggal Sebagai
Retno Marsudi. ( Foto: Antara )
Natasia Christy Wahyuni / HA Kamis, 11 April 2019 | 18:00 WIB

Jakarta, Beritastau.com - Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi melakukan serah terima kepada pihak keluarga atas seorang sandera warga negara Indonesia (WNI) yang berhasil dibebaskan dari kelompok bersenjata di Filipina Selatan. Dalam kesempatan itu, Retno juga secara simbolis menyerahkan jenazah sandera WNI yang meninggal dalam peristiwa yang sama.

Heri Ardiansyah (18) dan Hariadin (45) diculik bersama seorang WN Malaysia, Jari Abdullah, di Perairan Kinabatangan, Sandakan, Malaysia pada 5 Desember 2018. Ketiganya diculik oleh kelompok bersenjata di Flipina Selatan saat sedang bekerja di kapal penangkap ikan SN259/4/AF.

Pada 5 April 2019, sekitar pukul 18.00 waktu setempat, Hariadin yang disandera oleh kelompok bersenjata di Filipina Selatan meninggal dunia di perairan Pulau Simisa, Provinsi Sulu, Filipina Selatan. Hariadin meninggal akibat tenggelam di laut setelah terbebas dari penyanderaan. Sedangkan, Heri yang juga berenang untuk melarikan diri berhasil diselamatkan.

"Dalam pertemuan hari ini kita bahagia karena satu keluarga kita kembali dengan selamat tapi pada hari ini juga kita berduka karena satu saudara kita meninggal dunia dalam proses pembebasan," kata Retno dalam acara serah terima di kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (11/4).

Hadir dari pihak keluarga antara lain Kamalia mewakili keluarga Heri Ardiansyah dan Saharudin selaku kakak Hariadin.

Baca juga: WNI Sandera Abu Sayyaf Diselamatkan Marinir Filipina dalam Baku Tembak

Retno mengatakan, atas nama pemerintah, menyampaikan duka cita mendalam kepada seluruh keluarga atas meninggalnya Hariadin. Menurutnya, pemerintah Indonesia dan Filipina sudah melakukan usaha terbaik untuk membebaskan para sandera dalam kondisi selamat.

"Namun Allah berkehendak lain untuk saudara kita, Hariadin, saya berkeyakinan bahwa sebagai seorang Muslim, almarhum meninggal sebagai Mujahid karena almarhum disandera saat berjihad mencari nafkah untuk keluarga yang dicintainya," kata Retno.

Retno menambahkan pembebasan Heri menandai pembebasan keseluruhan 36 WNI yang disandera oleh kelompok bersenjata di Filipina Selatan. Namun, ujarnya, meskipun sudah tidak ada WNI yang disandera, kegiatan kelompok bersenjata Filipina Selatan masih tetap ada.

"Yang dapat kita lakukan antara lain berdasarkan kerja sama trilateral Indonesia, Filipina, dan Malaysia, kita berusaha memperkuat kerja sama tersebut untuk memperkuat keamanan di perairan Sulu dan sekitarnya," kata Retno.

Berdasarkan sumber Kemlu, Heri dan Hariadin berusaha melarikan diri dari pulau tempat mereka disandera menuju ke pulau terdekat karena takut menjadi korban salah tembak, setelah seorang WN Malaysia yang disandera bersama mereka meninggal sehari sebelumnya akibat terkena tembakan dari militer Filipina.

Tentara Filipina sudah mengepung pulau yang dikuasai kelompok bersenjata itu, untuk mengalahkan militan dan membebaskan sandera.

Keduanya berenang sambil mengapung dengan memakai pelampung buatan dari botol-botol plastik. Heri berhasil diselamatkan setelah berada di air selama sekitar 22 jam, sedangkan Hariadin meninggal karena tenggelam.



Sumber: Suara Pembaruan