Putra Mantan Gubernur Terseret Kasus Pelabuhan Benoa

Putra Mantan Gubernur Terseret Kasus Pelabuhan Benoa
Ilustrasi ( Foto: Beritasatu.com )
I Nyoman Mardika / JEM Jumat, 12 April 2019 | 13:46 WIB

Denpasar, Beritasatu.com - Putra mantan Gubernur Bali Made Mangku Pastika, bernama Putu Pasek Sandoz Prawirottama, disebut-sebut terlibat dalam kasus penggelapan dana proyek pengembangan Pelabuhan Benoa di Bali.

Hal itu sesuai pengakuan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bali, AA Alit Wiraputra, yang telah menjadi tersangka dalam kasus ini. Calon anggota legislatif dari Partai Gerindra ini, ditangkap aparat Polda Bali di kawasan Bellagio Residence, Kuningan, Jakarta, Kamis (11/4/2019) dini hari. Ia diduga menggelapkan dana perizinan untuk proyek di Pelabuhan Benoa senilai Rp 16,1 miliar.

Menurut Alit Wiraputra, Putu Pasek Sandoz Prawirottama turut menikmati aliran dana tersebut. “Sandoz mendapat 50% dari total Rp 16,1 miliar pada tahun 2012,” kata Alit Wiraputra kepada wartawan, Kamis (11/4/2019).

Alit Wiraputra mengaku dana proyek diberikan 50% ke Sandoz sebagai biaya kepengurusan izin pelebaran kawasan Pelabuhan Pelindo Benoa, Bali. “Sedangkan sisanya 50% untuk kami bertiga, yakni saya sendiri, Made Jayantara, dan Candrawijaya,” sebut Alit Wiraputra.

Alit Wiraputra mengatakan, dirinya menerima uang dari Sutrisno Lukito Disastro untuk dipakai mengurus perizinan pengembangan pelabuhan tersebut.

Begitu ditangkap, Alit Wiraputra langsung ditetapkan menjadi tersangka dan sampai Jumat (12/4/2019), masih diperiksa intensif di Mapolda Bali.

Alit Wiraputra menyebutkan, proyek tersebut dirancang oleh Made Jayantara dan Putu Pasek Sandoz Prawirottama. Sedangkan Alit Wiraputra hanya diminta menggantikan posisi Sandoz.

Alit Wiraputra mengaku tidak mengetahui uang senilai Rp 7,5 miliar dan 80.000 dolar Amerika Serikat (AS) yang diserahkan ke Sandoz . "Digunakan untuk apa uang itu, saya juga tidak tahu," ujarnya kepada wartawan di Denpasar.

Ia menjelaskan, awal perjanjian dan kesepakatan itu dilakukan oleh Sutrisno Lukito Disastro (58) selaku investor bermitra dengan Sandoz. Pertemuan terjadi 26 Januari 2012. "Jadi kesepakatan dilakukan mereka berdua. Saya hanya diminta menggantikan karena Sandoz ini adalah putra gubernur Bali saat itu," ujar Alit Wiraputra.

Ia juga menyatakan tak ada niat melarikan diri keluar negeri. "Kalau saya melarikan diri, tidak mungkin saya ada di sini," ujarnya berdalih pergi ke Jakarta karena urusan bisnis.

Alit Wiraputra mengaku merasa dijebak dalam kasus ini karena mendukung Prabowo menjadi presiden. “Kita lihat nanti apakah polisi juga akan menangkap Putu Pasek Sandoz Prawirottama, Jayantara, dan Candrawijaya,” katanya.

Sementara itu, Direktur Reserse dan Kriminal Umum Polda Bali Kombes Pol Andi Fairan mengatakan, Alit Wiraputra sudah ditetapkan sebagai tersangka sejak Jumat (6/4/2019) lalu.

Ia membenarkan bahwa sesuai pengakuan tersangka menyebutkan pria berinisial S memikili pengaruh besar di lingkungan pejabat gubernur Bali tahun 2012.

"Sehingga saksi korban Sutrisno Lukito Disastro sangat percaya oleh tersangka untuk membantu proses izin prinsip itu," kata Andi Fairan.



Sumber: Suara Pembaruan