Rektor USU: PLTA Batangtoru Ramah Lingkungan

Rektor USU: PLTA Batangtoru Ramah Lingkungan
Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) Runtung Sitepu (tengah), sebagai ketua pengkaji proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru, meninjau lokasi proyek tersebut di Tapanuli Selatan, baru-baru ini. ( Foto: Istimewa )
Arnold H Sianturi / JEM Jumat, 12 April 2019 | 13:52 WIB

Medan, Beritasatu.com - Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru berkapasitas 510 Megawatt (MW) yang sedang dibangun PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) di Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara (Sumut), dinilai ramah lingkungan. Selain meningkatkan perekonomian masyarakat, proyek energi listrik tersebut dapat menata lingkungan dan meminimalisasi bencana alam.

"Saya bersama tim ahli dari Universitas Sumatera Utara (USU), sudah turun langsung dan melihat ke lokasi pembangunan PLTA Batangtoru. Semua tudingan negatif atas pembangunan PLTA tersebut tidak benar," ujar Rektor USU Runtung Sitepu kepada SP, Kamis (11/4) malam.

Runtung meninjau lokasi proyek PLTA Batangtoru bersama Ketua Majelis Wali Amanat USU Panusunan Pasaribu, Dekan Fakultas Kehutanan Siti Latifah, Dekan Fakultas Teknik Sri Maulina dan sejumlah ilmuwan USU lainnya. Juga turut dalam peninjauan Ketua Komisi VII DPR Gus Irawan Pasaribu dan Bupati Tapsel Syahrul Pasaribu.

Kunjungan untuk mengkaji lokasi proyek PLTA Batangtoru ini sebagai tindak lanjut dari Memorandum of Understanding (MoU) yang melibatkan PT NSHE bersama Pemkab Tapanuli Selatan, Dinas Lingkungan Hidup dengan USU sebagai tim ahli kajian, September 2018 lalu.

Runtung Sitepu mengatakan, berdasarkan pengamatan langsung, proyek tersebut tidak dalam kawasan hutan lindung seperti yang dituduhkan segelintir pihak. “PLTA Batangtoru berada di areal penggunaan lain (APL) dan bukan dalam hutan lindung. Sebelumnya lahan itu dikelola masyarakat petani di sana," katanya.

Menurutnya, banyak tanaman keras yang dikelola masyarakat seperti kopi, durian dan karet. Di atas lahan pertanian itu (lokasi PLTA) juga bukan area dari habitat orangutan maupun satwa dilindungi lainnya. Sebab, satwa yang dilindungi tidak pernah dilihat masyarakat.

"Kondisi lokasi di perbukitan dan permukaan tanah seperti kawah yang ada di sekitar rencana pembangunan bendungan. Kondisi ini justru mengurangi luas areal yang tergenang, dan mencegah bencana banjir. Lokasi itu juga jauh dari area patahan gempa. Pembangunan PLTA ini sangat menguntungkan," jelasnya.

Ditambahkan, proyek ini lebih dominan sisi positifnya buat masyarakat. Selain bisa menjawab masalah krisis listrik juga membuka lapangan kerja bagi ribuan orang.

“PLTA Batangtoru dapat mengatasi krisis listrik di Sumut yang saat ini terpaksa menyewa kapal listrik milik asing untuk mengatasi kebutuhan listrik,” katanya.

Karena itu dia meminta semua pihak yang menyampaikan PLTA Batangtoru banyak masalah, supaya tidak asal tuduh semata. “Tidak baik menyampaikan informasi yang belum teruji kebenarannya. Lebih baik turun langsung ke lokasi sehingga bisa melihat fakta yang ada," imbuhnya.

Runtung yang juga pimpinan dalam mengkaji proyek PLTA Batangtoru mengatakan isu proyek PLTA Batangtoru bakal menenggelamkan hutan seluas 9.000 ha tidak benar.

Menurutnya, proyek ini berada di atas lahan seluas 90 ha di kawasan APL dari luar ekosistem Batangtoru 163.000 ha. Sedangkan lahan yang digunakan untuk tapak struktur PLTA Batangtoru termasuk genangan air dan infrastruktur hanya 122.122 ha atau 0,07% dari total kawasan.

Runtung menambahkan, PLTA Batangtoru juga memperhitungkan risiko gempa dengan menggunakan strandar Internasional Commissions on Large Dams (ICOLD) yang dikerjakan ahli dari Prancis, RRT, Taiwan dan Indonesia.

Menurutnya, PLTA Batangtoru berkontribusi besar terhadap pengurangan emisi karbon dioksida sehingga diprediksi minimal 1,6 juta ton emisi karbon dapat diturunkan setiap tahun. Jumlah ini setara dengan penyerapan karbon dioksida oleh 120.000 ha lahan hutan. [



Sumber: Suara Pembaruan