Pangkohanudnas: Metode Belajar Peta Buta Indonesis Perlu Diajarkan Lebih Intens

Pangkohanudnas: Metode Belajar Peta Buta Indonesis Perlu Diajarkan Lebih Intens
Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) Marsda Imran Baidirus (duduk, kedua dari kanan) memberikan penjelasan kepada Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) AM Putut Prabantoro, yang juga alumnus PPSA XXI Lemhannas di kantor Kohanudnas, Jakarta, Kamis, 11 April 2019. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Jumat, 12 April 2019 | 15:28 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Metode belajar peta buta Indonesia perlu diajarkan kembali dan lebih intens di sekolah-sekolah, terutama untuk generasi milenial yang tumbuh seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan informasi. Hal ini dirasakan mendesak, karena saat generasi milenial memimpin negara ini, Indonesia yang begitu luas dan berada dalam posisi strategis menghadapi ancaman yang begitu besar.

Kedaulatan negara dan ketahanan nasional salah satunya terbangun ketika kedaulatan udara terwujud. Demikian ditegaskan Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) Marsda Imran Baidirus ketika menerima kunjungan Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa), AM Putut Prabantoro, yang juga alumnus PPSA XXI Lemhannas di Markas Kohanudnas Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (11/4/2019).

Imran Baidirus menjelaskan, ancaman keamanan dan pertahanan di masa depan tidak tampak dan menggunakan wilayah udara sebagai media. Generasi milenial melakukan aktivitas seluruhnya berbasis pada wilayah udara ini. Siapa yang menguasai teknologi informasi dan komunikasi secara hardware (perangkat keras) ataupun software (perangkat lunak) dia yang akan menguasai perang di masa depan.

Indonesia sebagai sebuah negara, ujar Marsda Imran Baidirus, memiliki wilayah negara yang sangat luas. Jika dibandingkan dengan Eropa, jarak diagonal Sabang hingga Merauke sama dengan jarak London ke Ankara. Ini artinya, Indonesia besarnya meliputi belasan negara Eropa. Hanya saja, menurut Imran, kurikulum pendidikan sekolah dasar dan menengah belum cukup memperkenalkan wilayah Indonesia.

“Memperkenalkan Indonesia sebagai wilayah itu bukan untuk nilai rapor, tetapi untuk membentuk generasi baru yang mendiami sebuah wilayah daratan, laut dan udara yang kedaulatannya perlu dipelihara, dipertahankan, dan dijaga. Penanaman pemhaman ini tidak bisa instan tetapi perlu bertahun-tahun pendidikan. Oleh karena itu, menurut saya, anak-anak sejak dini harus diperkenalkan dengan Indonesia dengan pendekatan peta buta. Seharusnya lulus sekolah dasar, para siswa sudah memahami peta buta Indonesia. Ini soal sederhana tetapi sangat penting bagi masa depan Indonesia,” tegas Imran Baidirus.

Selain itu, siswa generasi milenial atau siswa generasi setelah generasi milenial perlu dipersiapkan secara alamiah untuk mencintai wilayahnya dengan memperkenalkan angkatan pertahanan negaranya. Menurut Imran, bagaimana dunia pendidikan sekolah dasar dan menengah membangun patriotisme melalui cinta akan angkatan pertahanannya.

“Memenangkan perang di masa depan tidak cukup hanya menguasai teknologi dan informasi. Indonesia yang sangat luas ini membutuhkan generasi yang memiliki budaya disiplin, budaya bangga akan negara dan negara, dan juga budaya mimpi dari sebuah generasi baru tentang Indonesia di masa depan. Yang perlu dilakukan oleh kita semua adalah bagaimana mempersiapkan generasi baru termasuk milenial memiliki ketiga mimpi ini,” tegas Imran Baidirus.

Oleh karena itu, Kohanudnas, akan memulai suatu program pendidikan rekreasional “Cinta Indonesia” bagi siswa sekolah dasar dan menengah dengan cara yang sederhana. Rekreasional itu merupakan perpaduan dari kata rekreasi (pendidikan dengan pendekatan entertain), kreasi (menciptakan mimpi) dan nasional (negara dan bangsa) .

“Program ini bertujuan membangun cinta negara dengan cara memperkenalkan angkatan udara kepada para siswa sekolah dasar dan menengah untuk mengerti wilayah udara Indonesia, pertahanan wilayah udara, memperkenalkan alat-alat pertahanan seperti pesawat terbang, lalu peta buta. Anak-anak pasti bangga ketika pakaian pilot dan berfoto dengan pesawat sekalipun replika, sebagai contoh.,” ujar Pangkohanudnas itu.

Menumbuhkan semangat patriotisme dan nasionalisme dari generasi baru itulah yang oleh Imran Baidirus dikatakan merupakan tantangan para pemimpin bangsa saat ini. Bagaimana mengenalkan Indonesia melalui peta buta itulah yang paling mendasar dari semuanya. Anak-anak milenial, menurut Imran, akan mencari sendiri jawabannya untuk memenuhi keinginan tahu mereka.



Sumber: BeritaSatu.com